Ulasan “Imitation Game” (2014)

Gw selalu suka film dengan embel-embel “Based on a True Story“. Film kayak gitu selalu berhasil bikin gw banjir bandang dari mata karena ngebayangin perjuangan dan rasa sakit yang dialami si tokoh utama. Oke emang pada dasarnya gw cengeng sih, cuma film yang diangkat dari kisah nyata selalu terasa gregetnya karena mungkin terasa lebih relatable buat sebagian orang lewat konflik-konflik yang disajikan.

Salah satu film berdasarkan kisah nyata yang menurut gw super adalah film baru besutan sutradara Norwegia, Morten Tyldum, yang menceritakan tentang kisah Alan Turing, seorang matematikawan genius yang ternyata berada di belakang layar kemenangan sekutu atas Jerman dalam Perang Dunia II.

Layaknya ciri-ciri orang genius kebanyakan, Alan Turing diceritakan sebagai seorang yang sombong, tertutup, penyendiri dan gagap. Ya laki-laki genius pencipta cikal bakal komputer modern ini adalah seorang yang gagap kalau bicara. Bikin geregetan deh pokoknya. Film dengan alur maju mundur ini juga secara sekilas menceritakan tentang masa remaja seorang Alan Turing yang kemungkinan besar membentuk karakternya saat dewasa.

Film yang mengantongi delapan nominasi Oscar dan 39 penghargaan di berbagai macam festival ini menceritakan tentang peran seorang Alan Turing (Benedict Cumberbatch) dalam memecahkan sandi dari alat komunikasi canggih milik Jerman yang dikenal sebagai Enigma. Isi komunikasinya sih biasa saja kayak salam, cuaca dan hal remeh-temeh lainnya tapi sebenarnya semua pesan komunikasi tersebut adalah kode-kode rahasia yang selalu berubah pada pukul 12 malam dan memiliki 165 juta kemungkinan untuk di-decoding setiap harinya. Bagaimana Alan Turing akhirnya berhasil memecahkan cara membaca kode Enigma? Itu sih harus lo tonton sendiri deh ya.

Seperti film kisah nyata lainnya, film ini juga bercerita tentang konflik batin si tokoh utama. Dan bukankah film yang menarik itu nggak cuma menonjol di satu sisi saja? Tapi yang juga berhasil mengombinasikan semua aspek latar belakang dan pendukung yang tersedia di depan mata. Film ini pun begitu.

Konflik utama dalam kisah ini adalah bagaimana Alan Turing berusaha untuk tetap menjaga cintanya pada sahabat semasa sekolahnya Christoper Morcom (Jack Bannon) yang adalah laki-laki. Yap benar, Alan Turing disinyalir adalah seorang pecinta sesama jenis yang pada saat itu adalah “penyimpangan” yang dapat dijatuhi hukuman pidana. Namun toh dia bergeming, Turing memilih diam dalam cintanya pada Christoper dan memilih untuk hidup dengan membuat perubahan.

Film ini juga menceritakan tentang perempuan yang sempat menjadi tunangannya, Joan Clarke (Keira Knightley), seorang perempuan genius dalam matematika yang entah dalam bentuk apa sangat disayangi oleh Turing. Mungkin Turing mendekatinya agar Joan menetap di Bletchley Park dan membantunya memecahkan kode Enigma serta menjembatani rasa kikuknya dalam berhubungan dengan tim pemecah kode lainnya.

Nggak seperti film ‘sejarah’ lainnya yang biasanya ngebosenin, film ini menampilkan sisi humor dari kekakuan Turing dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Hal-hal yang dilakukannya kadang mengundang gelak tawa karena dianggap tidak lazim dalam dunia manusia yang selalu mendewakan sosialisasi sebagai satu-satunya cara untuk memenangi banyak hati.

Secara keseluruhan menurut gw ini adalah film drama yang sarat makna kemanusiaan dengan beberapa pelajaran yang bisa diambil; kayak saat bagaimana Turing remaja belajar bahwa alasan seseorang melakukan kekerasan adalah karena senang atas reaksi atas kekasaran tersebut pada orang yang dikasarinya. Maka baginya untuk berhenti memberikan reaksi kepada kekerasan adalah cara terbaik dalam menghentikan kekerasan. Bingung? Tonton aja sendiri.

“Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… hollow.”

Juga kata-kata Joan saat Turing dalam masa “pengobatan” hormonal wajib sebagai hukuman atas perilaku gay-nya. Joan mengatakan kalau berbeda dan unik terkadang justru adalah hal yang terbaik dari diri seseorang.

“Now, if you wish you could have been normal… I can promise you I do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.”

Sayangnya menurut gw pribadi film ini nggak didukung efek yang brilian. Dalam beberapa adegan pengeboman pesawat dan adegan kapal-kapal tenggelam dan terbakar di tengah laut efeknya terlihat sangat kasar bahkan potongan-potongan gambar dokumenter hitam putih yang ditempelkan pun terkesan sembarangan dan asal tambal sulam saja, padahal kalau dilakukan lebih rapi mungkin bisa lebih ciamik loh.

Namun secara keseluruhan, film ini memang pantas mendapatkan semua penghargaan dan nominasi yang disandangnya saat ini.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 117 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Mixtape Ala Remehtemeh #1

Close