Ulasan “Boyhood” (2014)

Pernah nonton film yang menurut lo epic? Bagaimana definisi epic menurut lo? Sejauh pengetahuan gw, gelar film epic cuma pantas merepresentasikan dua film, “Lord of The Rings” dan “Godfather”. Tapi kini ada “Boyhood”. Gw gak bisa berhenti mengagumi film ini setelah menontonnya. Berikut alasan kenapa film ini epic.

Kesabaran

klik untuk perbesar
Klik untuk perbesar gambar

Berapa lama waktu syuting sebuah film? Yang gw tau kebanyakan tiga bulan atau paling lama setahun. Untuk animasi bisa sampai empat tahun. Itu sangat wajar mengingat pembuatan animasi mulai dari sketsa, pewarnaan, motioning karakter hingga yang paling berat rendering. Coba tebak berapa waktu pembuatan film ini.

12 tahun!

Ya, gw gak typo. Ini film memang bercerita tentang seorang anak kecil yang tumbuh jadi remaja. Gak ada efek, morphing, atau apa pun itu untuk memanipulasi penampakan aktornya.

Kebayang gak lo rasanya syuting 12 tahun? Banyak hal yang dipertaruhkan dalam rentang waktu produksi selama itu. Pemainnya, kru atau sutradaranya bisa saja meninggal di tengah jalan. Atau bahkan perusahaan produksi film ini gulung tikar sebelum filmnya sempat dirilis.

Jika salah satu aktornya meninggal, film ini jelas akan hancur lebur seperti sinetron “Tersanjung” atau “Cinta Fitri” yang karakternya sama namun diperankan oleh pemeran yang berbeda. Continuity-nya di manaaa?

Untuk menyiasatinya, konon sang sutradara, Richard Linklater, mewasiatkan kepada Ethan Hawke dan kru lainnya untuk melanjutkan produksi bilamana dia meninggal di tengah jalan. Hal ini membuat “Boyhood” menjadi sebuah proyek film ambisius dan penuh risiko.

Nalar

ellarmasterKembali ke perbandingan film Indonesia dan Hollywood. Film Indonesia masih banyak menampilkan atribut jiwa raga palsu. Kehamilan, kumis, jambang, rambut, bahkan agama pun direkayasa di suatu film. Menafikan kecerdasan penonton yang setiap hari nonton infotainment. Jelaslah mereka sadar ketika artis yang sehari-hari dilihat botak tapi ujug-ujug berambut tebal di film.

Mbokya sutradara mikir, kalo pun sang artis pengen didandani dengan perubahan ekstrem, pilihlah artis yang kurang dikenal, yang jarang mondar-mandir di media. Orang Indonesia kan infotainment hardliners semua. Tahi lalat di hidung penyanyi cilik tiba-tiba ilang aja kita semua langsung tau tanpa perlu klarifikasi resmi dari sang empunya andeng-andeng.

Hal ini yang ingin dicapai “Boyhood”, sebuah kesinambungan yang gak maksa yang dicapai dengan nalar sederhana: film dengan pemain yang sama, hanya saja mereka bertambah tua. Semua atribut tidak ada yang dipalsukan karena memang kita disajikan perjalanan kehidupan seorang bocah menjadi remaja. Laiknya menonton dokumenter, semua disajikan dengan begitu natural seperti tanpa skenario.

Ringan

Pecinta film pasti udah pada tau kolaborasi Richard Linklater dan Ethan Hawke yang paling abadi hingga kini: “Before Sunrise”, “Before Sunset”, dan “Before Midnight”. Jujur, gw bukan penggemar ketiga film ini. Film itu terlalu cerewet buat gw. Dua jam lebih kita disuguhi orang ngobrol doang. Mungkin ini ada hubungannya juga dengan pendapat gw dengan kecerewatan di dunia nyata. Gw gak terlalu suka kebisingan dari mulut-mulut manusia.

Kurang lebih film ini sama dengan dengan trilogi “Before” tersebut, bercerita tentang hal sederhana dengan dialog intens. Masalah yang ditawarkan ringan – hanya tahap kehidupan yang harus dilalui. Masalah di-bully di sekolah, pubertas dan kenakalan remaja serta turbulensi rumah tangga. Semuanya natural dan memang terjadi di kehidupan orang pada umumnya. Tidak ada satu masalah besar yang dijadikan fokus dan harus dipecahkan di sini. Semuanya mengalir, seiring waktu. I mean business when talking about time here.

Dominasi Penghargaan dan Soundtrack Bagus

Kalo yang ini adalah alasan lo harus nonton “Boyhood”. Adikarya ini memenangi tiga piala di Golden Globe, empat di Critics’ Choice Awards dan enam nominasi di Oscar.

Butuh alasan lagi untuk nonton film ini?

Film ini juga dipenuhi soundtrack groovy yang sesuai dengan timelapse adegannya. Coldplay, Blink 182, The Flaming Lips, hingga Gotye turut meramaikan jalan cerita. Nih sebagian soundtrack-nya.

Secara keseluruhan film ini gak menawarkan cerita yang kompleks dan bakal bikin lo terpukau sampai laler masuk mulut lo. Malah ketika menontonnya gw cuma bisa nemu satu kalimat yang layak kutip, yaitu ketika si anak yang masih kecil maen bowling ama bapaknya, dia bete karena gak strike-strike dan minta bumper (kayak bowling buat bocah) biar gampang maennya. Lalu si ayah gak menuruti kemanjaan sang anak dan malah menjawab,

You don’t want the bumpers, life doesn’t give you bumpers.

Tapi kesederhanaan ceritanya terbayar lunas bahkan piutang oleh kerja keras produksinya yang menampilkan perubahan fisik alami. Step aside skinny Matthew McConaughey! Dan tentu saja melihat diorama kehidupan seorang bocah – meski biasa di dunia nyata – adalah sesuatu hal yang menyentuh relung jiwa paling dalam jika disaksikan dalam bentuk film.

NB: Pada kemunculan pertamanya di film ini, Ethan Hawke gw kira Mark McGrath, vokalisnya Sugar Ray. Terima kasih untuk baca footnote gak penting ini.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 134 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Blog Ini Dapat Penghargaan!

Close