“Tak3n” (2015), Akhir dari Kisah Liam Neeson?

“… I will look for you, I will find you, and I will kill you”, adalah salah satu dialog yang paling ngena banget dari trilogi “Taken”. Film yang bikin gw sangat ngefans sama Oom Liam Neeson dan bikin gw cari-cari film lain yang dibintanginya. Sebut saja “Schindler’s List”, “Batman Begins” yang sudah cukup lama sampai beberapa judul film baru seperti “The Dark Knight Rises”, “The “A” Team” atau film-film terbarunya yang keluar 2014 lalu “A Walk Among the Tombstones” dan “Non-Stop”.

Pekan lalu akhirnya gw nonton “Taken 3” atau versi alaynya ditulis “Tak3n”, yang merupakan sekuel franchise “Taken” yang pertama kali gw tonton 2008 lalu. Ceritanya masih berkisar tentang Bryan Mills (Liam Neeson), seorang mantan government agent (mari kita sebut dengan GA), yang punya kemampuan khusus (ya iya lah ya). Bedanya di sini “Taken” nggak lagi bercerita tentang penculikan terhadap orang-orang terdekat Mills tapi cerita justru berkutat pada dirinya yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap mantan istrinya Lenor St. John (Famke Janssen). Agaknya hal ini dikarenakan Liam Neeson sendiri memberikan persyaratan dia hanya akan bermain dalam seri ketiga dari trilogi ini kalau tidak ada lagi anggota keluarga yang diculik.

Masih seru kayak dua film sebelumnya, film ini juga memperlihatkan kelihaian Oom Mills sebagai mantan GA. Dimulai dari menghubungi putrinya Kim Mills (Maggie Grace) menjelaskan tentang situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya dan memperingatkannya tentang semua kemungkinan yang akan dialaminya kemudian.

Selain adegan-adegan berantem yang terampil, cekatan dan pastinya keren banget, film ini memperlihatkan bagaimana sebuah kebiasaan yang terstruktur bisa membantu lo berkomunikasi dalam situasi yang mendesak.

Hal itu digambarkan dengan adegan ketika Bryan Mills harus mencari cara agar dapat berkomunikasi dengan Kim tanpa ketahuan para detektif dan polisi yang sedang mencoba untuk menangkapnya. Dia memanfaatkan kebiasaan yang biasanya taken for granted (no pun intended) untuk menghubungi anaknya. Yah tonton sendiri lah ya biar lebih jelas adegannya kayak apa.

Lalu bagaimana kepercayaan dapat membantu dalam situasi sesulit apa pun juga ditampilkan di film ini. Kayak biasa Mills yang sangat cinta sama Kim selalu menjelaskan situasi dengan gamblang dan hal ini sangat diapresiasi oleh Kim dengan memberikan kepercayaan penuh kepada Mills.

Sumber yang gw baca, sebelum nonton film itu, menyatakan bahwa film ini gak masuk akal karena Bryan Mills harus membunuh semua orang dalam perjalanan membuktikan dirinya tidak bersalah. Tapi menurut gw itu nggak benar sepenuhnya. Dalam film ini lo bisa lihat Mills harus berantem sama banyak orang tapi dia hanya membunuh beberapa orang saja, kebanyakan lawan berantemnya dilumpuhkan dengan ilmu bela dirinya yang tidak mematikan tapi cukup bikin tulang lo ngilu.

Ilmu bela diri yang digunakan Bryan Mills adalah Nagasu Do yang merupakan perpaduan antara judo, aikido dan jujitsu. Percaya nggak percaya untuk film terakhir dari trilogi ini (atau setidaknya itu yang gw harapkan) Liam nggak pakai stuntman sama sekali. Terrific.

Sayangnya Oom Liam nggak bisa lari dari kenyataan. Maksudnya, kenyataan bahwa umurnya yang memang sudah nggak muda lagi. Di dua film sebelumnya, gerakan-gerakan ilmu bela diri yang dilancarkannya selalu terlihat cepat dan tangkas, bikin setiap jurus yang dikeluarkan terlihat kilat dan susah ditangkap mata.

Sedangkan di film terakhir ini entah kenapa justru terlihat sangat lambat, setiap gerakannya pun tidak lagi cekatan. But overall this movie is terrific, bahkan dalam debut perilisannya “Tak3n” bisa mengalahkan sekuel terakhir “The Hobbit” yang merajai box office selama beberapa waktu. Kereeen.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 281 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Bukan Kaleidoskop 2014

Close