Richard Linklater dan Magnet Trilogi “Before”

Hampir semua penggemar film drama romantis tahun 90-an pasti tidak asing dengan “Before Sunrise”, sebuah film yang mengetengahkan kisah pertemuan tidak terduga sepasang remaja di dalam kereta yang berlanjut menjadi asmara membara di antara keduanya. Film ini disutradarai oleh salah satu sineas favorit saya, Richard Linklater, dengan reputasi mumpuni di kancah perfilman Hollywood.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman bahwa ide pembuatan film ini terinspirasi langsung dari kisah nyata sang sutradara. Dan memang benar, “Before Sunrise” adalah jelmaan dari kehidupan percintaan sang sutradara di dunia nyata. Linklater bertemu dengan Amy Lehrhaupt pada musim gugur tahun 1989 di Philadelphia. Pertemuan satu malam itu diakui sang sutradara sebagai peristiwa yang tidak pernah bisa ia lupakan sepanjang hidupnya.

Namun, cerita romantis ini berakhir pahit bagi Linklater. Jika Jesse dan Celine dapat bertemu kembali untuk mencoba merajut kesempatan kedua di sekuel “Before Sunrise”, hal ini tidak terjadi pada Linklater karena Lehrhaupt meninggal dunia dalam kecelakaan tidak lama sebelum “Before Sunrise” mulai diproduksi. Linklater memang tidak pernah bisa merajut sekuel cerita cintanya bersama Lehrhaupt, namun bukan berarti karyanya juga terhenti di situ. Melalui karyanya, Linklater mencoba mengenang sosok Lehrhaupt secara utuh dan abadi. Mencoba membayangkan apa yang terjadi jika pada akhirnya mereka benar-benar bersatu. Shoot! It’s real touching. *brb nangis di pojokan*

Setelah “Before Sunrise” mendapat respons dan kritik positif dari para pemerhati film, Linklater dengan serius merumuskan kelanjutan film ini. Sang sineas benar-benar menunggu sembilan tahun untuk melahirkan sekuelnya, “Before Sunset”. Linklater kemudian merampungkan trilogi ini lewat “Before Midnight” pada 2013. Total 18 tahun dibutuhkan untuk merampungkan kisah cinta Jesse dan Celine.

Seperti dua film sebelumnya, “Before Midnight” juga dihujani kritik positif dan membuatnya mendapatkan label certified fresh di Rotten Tomatoes. Perlu diketahui di ketiga film ini Linklater hanya menampilkan Ethan Hawke (Jesse) dan Julie Delpy (Celine) sebagai tokoh sentral. Bisa dikatakan 90% adegan berupa dialog tanpa jeda dari kedua tokoh ini sehingga nyaris tidak ada ruang untuk adegan lain. Wajar kalau banyak yang berpendapat this movie is boring as hell, but not me. I repeat, NOT ME!

Anyway, trilogi “Before” ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa versi saya. Anehnya film ini tidak pernah bosan saya tonton berkali-kali meskipun sepanjang film hanya berisi percakapan minim jeda antara Jesse dan Celine. Kisah romantis yang dibalut dengan apik dan tidak biasa oleh Linklater ini jujur sering membuat saya termehek-mehek. Romantisisme ala Linklater bukanlah romantisisme yang dangkal dan murahan, bukan semata-mata simbolisasi, perkara fisik atau hawa nafsu. You can judge me, whatever tapi memang ada perasaan berbeda yang saya rasakan setiap kali menonton trilogi ini. Jika saya dipaksa menjelaskan, mungkin perasaan itu lebih seperti kontemplasi. Perenungan tentang kehidupan terutama tentang suatu hubungan. Ceilah!

Di antara ketiganya, “Before Sunset” menurut saya adalah yang paling juara membuat perasaan seperti diaduk-aduk. Di sini Jesse dan Celine kembali bertemu dalam situasi yang rumit dan tidak berpihak kepada mereka setelah sembilan tahun berpisah. Percakapan mereka bukan lagi seputar mimpi dan angan-angan, namun menjadi lebih realistis dan pahit di beberapa bagian. Saya belajar banyak tentang upaya mendengarkan pasangan dari film ini.

Mungkin ini terdengar mudah, apa sih susahnya mendengarkan orang lain berbicara? Tapi coba kamu dengarkan orang lain bicara tanpa ada hasrat ingin menyela. Susah! Kalau memang tidak ada keinginan menyela, apakah yang kamu lakukan itu benar-benar mendengarkan? Atau cuma formalitas yang statusnya hanya lewat? Ada satu kutipan menarik dari Stephen R. Covey yang cukup menggambarkan situasi ini,

“Listen with the intent to understand, not the intent to reply.”

Mendengarkan seharusnya didasari keinginan untuk memahami bukan untuk menjawab atau konfrontasi. Namun, dalam banyak kasus, orang memang cenderung lebih ingin didengarkan daripada sebaliknya. Tanpa disadari hal ini membuat kemampuan mendengar seseorang menjadi pas-pasan dan kian mengkhawatirkan. Hei, saya pun sangat mungkin termasuk di antara orang-orang itu.

Namun, Jesse dan Celine memperlihatkan sekaligus mengajarkan suatu hubungan yang mutual dan berkesinambungan. Hubungan yang sifatnya dua arah sehingga percakapan menarik tidak pernah berhenti mereka ciptakan. They found their true talk companion in each other. Entah mengapa itulah yang membuat film ini begitu romantis di mata saya. Ini semua tentu karena ulah Linklater. Ide cerita, dialog dan konflik yang begitu kuat dan tidak biasa selalu ditawarkan dalam film-filmnya. Karyanya adalah hasil kerja yang sarat usaha dan yang terpenting sarat pesan moral. Long live, Linklater!

Stay updated! Follow us on:

(Visited 581 times, 1 visits today)

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Imitation Game” (2014)

Close