Mixtape Ala Remehtemeh #1

Akhir pekan ini spesial karena remehtemeh akan menyajikan sesuatu yang berbeda. Tujuannya ya untuk menemani akhir pekan pembaca setia situs ini yang kadang mati ide ketika berada di depan kolom pencarian miliaran lagu di Youtube, Soundcloud atau situs sejenis.

Kalo biasanya kami mengulas satu album penuh kali ini kami akan menyajikan playlist berisi lagu-lagu – yang menurut penulisnya – menarik. Kami akan bahas lagu-lagu yang patut dengar. Tak harus baru, yang penting menyentuh kalbu; begitu kira-kira garis tak kasatmata yang memandu artikel mixtape ini dan selanjutnya.

“Stone Milker” Bjork

Lagu “Stone Milker” adalah single andalan dari album terbaru Bjork yang resmi dirilis 20 Januari 2015. Gw inget dulu pertama liat video klip nyentrik penyanyi bermuka cantik tapi mirip pemain film horor ini ketika dia nyanyi di panggung gak pake alas kaki. Di sana dia pake gaun dan menari-nari seperti kesurupan. Dia juga memainkan alat musik aneh, Reactable, yang dulu (mungkin sampai sekarang) gak populer.

Dia emang salah satu eksperimentalis sejati dalam dunia musik. Selain berani mencoba hal yang baru, dia juga berani dalam mengungkapkan perasaan pribadinya. Baru-baru ini, ketika diwawancarai Pitchfork, dia membandingkan perlakuan yang didapatnya sebagai penyanyi wanita dibandingkan penyanyi pria. Cewek, katanya, sering didiskreditkan di dunia musik. Seolah dianggap sebagai warga kelas dua di dunia musik.

For example, I did 80 percent of the beats on Vespertine and it took me three years to work on that album, because it was all microbeats—it was like doing a huge embroidery piece. Matmos came in the last two weeks and added percussion on top of the songs, but they didn’t do any of the main parts, and they are credited everywhere as having done the whole album. [Matmos’] Drew [Daniel] is a close friend of mine, and in every single interview he did, he corrected it. And they don’t even listen to him. 

“Stone Milker” adalah sebuah lagu yang “penuh” di kuping. Lo harus denger pake headset untuk dapat menikmati seutuhnya. Temanya sih masih soal cinta-cintaan, namun dengan komposisi setingkat orkestra. Ada juga suara menyerupai air di dalam gua untuk menekankan tetesan milk-nya. Pelafalan huruf ‘R’ di lagu ini juga bikin lagu ini unik. Medok banget. Stone milking jika diterjemahkan adalah memerah (seperti susu) batu. Ya, itu menganalogikan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Dia gak mungkin bisa memperbaiki hubungannya karena pacarnya gak pernah terbuka.

“Mascara” Jazmine Sullivan

Beyonce udah terlalu seksi di video klip yang kadang gak relevan sama lagunya, India Arie udah gak produktif, Nicky Minaj too slutty. Mungkin udah saatnya pecinta R&B beralih idola. Nama Jazmine Sullivan jarang terdengar di Indonesia. Atau gw yang gak gaul? Ini lagu dengan kekuatan lirik yang besar. Seperti antidot dari racun peningkatan self-esteem dalam “All About That Bass” Meghan Trainor atau “Pretty Hurts” Beyonce, Jazmine menawarkan sebuah realitas yang jujur. Dia mengkritik kaumnya sendiri. Dia emoh memuja-muja wanita untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka karena pada kenyataannya memang ada sebagian dari mereka yang butuh bitch slap.

Dalam lagu ini dia menghadirkan satire tentang perempuan yang mengandalkan tubuhnya untuk mendapatkan semua keinginannya. Banyak perempuan yang banting tulang cari duit iri sama dia yang hanya perlu mengerlingkan mata berulas maskara untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Si perempuan ini gak pernah ketinggalan membawa makeup ke mana pun dia pergi karena sewaktu-waktu bisa aja dia ketemu “target”. Dia gak mau melewatkan itu. Dia harus operasi plastik, olahraga abis-abisan untuk bayar sewa rumah dan liburan ke tempat-tempat yang bahkan gak bisa dia lafalkan namanya dengan benar. Jadi inget seorang biduanita yang pernah liburan ke Sun Fransisco.

Coba dengar lagu lain dari Jazmine di albumnya, “Reality Show”. Lagu-lagunya cocok sama judul albumnya. Lagu lain yang patut denger adalah “Silver Lining”, yang bercerita tentang ayah yang harus mencuri untuk memberi makan anaknya.

“Do I Wanna Know?” Arctic Monkeys

Lagu yang diambil dari album “AM” ini juga kayaknya gak dapet airplay yang bagus di radio-radio lokal, gak kayak “Dancing Shoes” atau “When The Sun Goes Down” dari album pertamanya. Secara keseluruhan, lagu ini sih masih menampilkan ciri khas Arctic Monkeys yang spontan, (sengaja memberi kesan) berantakan sekaligus muda tapi dewasa.

Dulu ketika album pertamanya keluar, dunia – atau lebih tepatnya dunia kecil di sekitar gw doang – diracuni dengan rumor bahwa album pertama Arctic “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” dikerjakan dengan proyek Roro Jongrang – luar biasa cepat. Katanya lagu-lagunya direkam dengan satu kali take dan voila, jadilah satu album penuh. Sampai sekarang gw masih gak tau kebenaran cerita itu.

Secara keseluruhan lagu ini memberi kita nostalgia tentang kejayaan Arctic dulu. Dan yang lebih penting jika ada orang yang sok tau ngasih nasihat, kita bisa melawan kesoktahuan mereka dengan pake nada “Do I Wanna Know?” lagu ini, setelah sebelumnya kita cuma bisa nyanyi “Did I Ask Your Opinion” dari The Sigit atau mengutip kalimat “who asked you anyway” dari “Alma Matters”-nya Morrissey.

Dan mungkin karena Adele lagi sibuk menyusui anaknya, lagu dengan atmosfer nada Bond-esque ini seharusnya bisa jadi soundtrack pembuka film detektif M16 terbaru nanti.

Selamat mendengar,

All copyright belongs to their respective owners (artist and record label). We don’t own this material.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 62 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Boyhood” (2014)

Close