Ulasan “Stand By Me Doraemon” (2014)

Nostalgia, ngakak, nangis adalah tiga kata kunci ketika kemarin nonton “Stand By Me Doraemon”. Semua kenangan masa kecil ketika setia menunggu jam 8 tiba di RCTI tergugah saat menyaksikan Doraemon, Nobita dan kawan-kawannya di layar bioskop. Ada beberapa hal yang bisa gw rangkum dari 95 menit memori masa kecil ini.

Orisinalitas

Kayaknya semua orang di dunia ini tau Doraemon berasal dari Jepang. Semua orang juga tau Doraemon digilai di seluruh dunia dengan bahasa yang berbeda. Tapi film ini sekali lagi membuktikan kebanggaan orang Jepang terhadap budayanya yang mengakar kuat. Film ini tidak mengorbankan jati dirinya demi alasan komersial dengan tetap menyajikannya dalam bahasa Jepang, dilengkapi subtitle Inggris+bahasa Indonesia. Malah pilihan tersebut membuat film ini lebih greget karena emang suara dan animasinya sangat sesuai dibandingkan dengan sulih suara yang hasilnya maksa, mengingat dalam film animasi suara karakter akan dibuat terlebih dulu baru kemudian visualnya mengikutinya.

Dalam premiere-nya di Tokyo International Film Festival katanya film ini disulihsuarakan ke dalam bahasa Inggris, tapi itu wajar menurut gw karena skala internasional acara tersebut.

Sederhana

Berbeda dengan film-film sebelumnya; “Doraemon: Nobita dan Legenda Raja Matahari”, “Doraemon: Petualangan Nobita di Negeri Wan Nyan” – yang diambil dari komik seri petualangan – “Stand by Me” menawarkan jalan cerita yang simpel dan gak perlu memerah nalar dan konsentrasi. Film ini sebenarnya adalah penggalan cerita-cerita di serial komik biasanya. Konflik dan alat-alatnya pun sederhana banget. Kayaknya film ini emang cuma ditujukan untuk ajang reuni memori masa kecil orang-orang yang tumbuh dewasa mengkhayal bersama Doraemon.

Kurang melintir

Kalo kata anak pelem sih twist ending. Ini dia kekurangan “Stand by Me”. Ini bisa disebut spoiler gak? Yah emang sebelumnya gw udah bilang alurnya sederhana tapi itu berubah jadi terlalu sederhana ketika bicara tentang ending film ini. Gw bahkan udah bisa menebak gimana cerita akhirnya 10 menit sebelum filmnya bener-bener berakhir.

Komik

Meski teknik animasi yang digunakan 3D, bukan lagi 2D seperti sebelumnya, tapi film ini masih berpegang pada versi komiknya. Maksudnya, efek-efek seperti gelembung ingus ketika tidur, ingus meler diisep lagi, trus benjol segede gaban ditampilkan dramatis di film ini. Sebuah komik dengan rasa 3D.

Dekat

Cerita, latar belakang, karakter di film Doraemon juga sangat dekat buat gw. Gw bisa mengidentifikasikan diri sendiri ke karakter dan setting yang ditawari film ini. Setiap anak pernah enggan ke sekolah karena takut ketemu bully, mules waktu ulangan, naksir cewek cantik kembang sekolah, punya temen jelek tapi kaya. Semuanya diingatkan lagi lewat film ini.

Dan yang bikin terharu adalah ditampilkannya lapangan bermain – yang sekarang udah jarang banget gw temuin. Lapangan ditampilkan repetitif di film ini, seolah jadi pengingat tentang kebahagiaan anak zaman dahulu kebanyakan didapat dari sini. Itu efeknya personal banget buat anak zaman dulu. Gw punya banyak cerita berkesan yang gw dapet di lapangan; olahraga SD negeri bareng-bareng sekolah laen, ngeliatin cewek-cewek bening berkeringat, ketemu Bondan Prakoso, sampe berantem one-on-one di sana. Gw gak yakin efeknya sama ketika ini ditawarkan kepada anak zaman sekarang. Atau gw yang terlalu overreacting?

Secara keseluruhan film ini lumayan buat mengenang tapi gak seperti yang diduga orang dengan publisitas gede-gedean yang udah santer digaungkan bahkan sebelum filmnya tayang di bioskop Indonesia. Lo harus nonton sendiri untuk tau apa yang gw maksud.

N.B: Jangan buru-buru pulang setelah film selesai. Ada adegan “dibuang sayang” seolah-olah karakter-karakternya manusia asli di film live action diiringi lagu Himawari no Yakusoku. Tenang aja, nunggunya gak akan selama credit scene di film-film Marvel kok. Selamat menonton!

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 725 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
“Klik” yang Beda

Close