Ulasan “Pendekar Tongkat Emas” (2014)

Menurut gw nggak banyak filmmaker Indonesia bisa bikin film yang bisa menarik orang banyak hanya dengan iming-iming jalan cerita yang bagus. Kadang jalan cerita yang bagus harus didukung dengan wajah cantik dan tampan atau ketenaran salah satu aktor pada saat film itu dibuat. Tingkat ketenaran itulah yang akhirnya jadi nilai jual film yang dibuat bukan keseluruhan filmnya.

Sayangnya, nggak jarang ada juga filmmaker yang putus asa karena filmnya nggak laku dan akhirnya bikin jalan pintas dengan bikin film dengan cerita nggak jelas dan menebar paha dan dada. Herannya, masih ada yang mau nonton. Namun, agaknya sineas-sineas andal yang mulai gerah sudah mulai gerak untuk bikin film-film yang lebih bermutu dari sekadar dada dan paha. Dan film karya sineas andal tersebut biasanya punya pesan moral dalam kisahnya.

“Pendekar Tongkat Emas” adalah salah satu contoh film bagus yang memang dinanti pecinta film Indonesia, salah satunya gw. Film yang bertaburan artis-artis terkenal dengan kemampuannya yang dahsyat dan tim yang sangat mumpuni ini membuat film bertema dunia persilatan tapi nggak kelihatan lebai kayak sinetron naga-nagaan di TV swasta.

Oke gw ngaku kok kalau gw juga nggak pakar-pakar banget dalam menilai film, wong awal gw tertarik mau nonton film ini karena lihat di internet tentang proyek baru film idola gw Nicolas Saputra kok (kyaaaaaaaaaa). Namun sejak awal browsing berita, nonton trailer dan akhirnya nonton langsung filmnya; gw bisa menyimpulkan bahwa ini salah satu film yang bagus apalagi kalau dibandingkan sama poster film Indonesia lainnya.

Sesaat film dibuka dengan suara berat Cempaka (Christine Hakim), memperlihatkan sosoknya yang berjalan di tengah padang rumput dan ilalang yang mulai menguning. Entah kenapa kemunculan beliau dalam setiap filmnya selalu mampu bikin gw berpikir kalau dia satu-satunya artis perempuan yang bisa segalanya. Literally anything.

Di film ini kita akan disuguhi dengan pemandangan alam Sumba yang bisa bikin lo berpikir, “Ini seriusan di Indonesia masih ada yang kayak gini nih?” Alam yang hijau, padang rumput dan ilalang yang masih rimbun dan air sungai yang masih sangat jernih. Satu kata buat lokasinya adalah AMAZING.

Namun ada beberapa yang mengusik rasa penasaran gw tentang gambar-gambar di film ini. Detail-detail alam seperti close-up ulat, sarang laba-laba, daun, semut sering ditampilkan di beberapa awal adegan. Meski indah, gambar-gambar ini rasanya tidak sinkron dengan adegan yang mengikutinya. Beberapa film yang gw tonton dengan detail seperti itu ‘biasanya’ diikuti dengan teknik zoom out atau panning ke adegan utama. Tapi, di film ini detail-detail tersebut sayangnya – harus gw bilang lagi, meski indah – berdiri tunggal.

Satu hal lain yang bikin penasaran adalah ditampilkannya bulan secara repetitif; bulan sabit, bulan setengah, bulan penuh, bulan tertutup awan. Mungkin ada penjelasan semiotik untuk hal ini? Atau ini cuma sekadar penanda transisi hari?

Jalan ceritanya sendiri sih sebenarnya nggak bisa dibilang orisinal atau beda dari biasanya, secara garis besar plotnya hampir sama dengan semua film-film silat lainnya. Baik di film Indonesia maupun film Tiongkok yang biasa kita tonton saat kita kecil dulu; penuh dengan pembunuhan, pengkhianatan dan balas dendam. Tapi sinematografinya luar biasa jika dibandingkan film Indonesia yang sudah ada. Lighting, camera angle, komposisi semuanya ditata dengan apik, memanjakan para penonton secara visual plus audio dengan musik lokal setting film tersebut.

Pembentukan karakter para pemainnya juga cukup kuat buat gw, kayak Biru (Reza Rahadian) dan Gerhana (Tara Basro) yang sebenarnya anak dari musuh Cempaka yang lalu diangkat menjadi muridnya setelah dia membunuh orang tuanya. Anak mana yang nggak dendam orang tuanya dibunuh? Kalau menurut gw (gaya sotoy) ini sebenarnya yang menjadi awal pengkhianatan besar Biru dan Gerhana. Mata dibalas mata.

Sementara Dara (Eva Celia) dan Angin (Aria Kusumah) mungkin lebih sederhana karena mereka berdamai dengan kenyataan mengenai orang tua mereka (ini lagi-lagi sotoy). Lalu muncul nama Naga Putih (Darius Sinathrya) dan seorang Elang (Nicolas Saputra). Siapa mereka dan apa hubungannya dengan tokoh utama? Itu sebenarnya pertanyaan yang akan dijelaskan di akhir film tapi akan lebih baik menurut gw kalau sedikit dijelaskan di awal film, soalnya opini penonton keburu kebentuk gitu. Hehehe.

Sejak pertama kemunculan Elang gw sedikit jadi deg-degan sendiri, menyaksikan betapa tampannya dia walau dengan penampilan yang lain dari biasanya, hitam dan berantakan. Namun kemunculannya sebenarnya bikin bingung juga. Pertama, bagaimana dia bisa tahu ada orang (tonton sendiri untuk tahu siapa) yang akan jatuh dari tebing?

Kedua, kok dia bisa tahu identitas Dara? Selain tokoh Elang yang kayak peramal, ada beberapa hal lain yang bikin gw mengerutkan kening, bukan karena nggak bagus tapi agak ganggu aja. Kayak yang pertama, penokohan Elang yang kayak Rangga, irit ngomong dan nggak banyak gaya. Apa emang Nico sengaja cari tokoh yang kepribadiannya kayak gini di semua filmnya? Kalau iya, kok nggak kreatif banget sih… tapi aku tetap cinta kamu kok Nico.

Ketiga, gaya berdialog tokoh Gerhana yang kaku. Jujur, ini film Tara Basro pertama yang pernah gw tonton. Gw kenal Tara Basro aja di acara masak-memasak di salah satu channel TV berlangganan kok, tapi di acara itu dia bisa membawakan dialog yang luwes, santai dan nggak kaku. Kalau menurut gw sih mungkin karena dialog dalam bahasa Indonesia yang baku kali ya? Tapi baru kali ini loh gw nonton film dengan bahasa Indonesia baku. Salut sama penulis naskahnya.

Keempat, tokoh Naga Putih yang misterius banget, kenapa tiba-tiba dia mundur dari dunia persilatan? Apa membunuh bikin dia menyesal? Serius gw bingung banget.

Kelima, yaitu kepergian Elang yang tanpa pesan, cuma bilang dia menerima hukuman karena sudah melanggar sumpahnya untuk nggak ikut campur dalam… (tonton sendiri). Memangnya kenapa kalau dia ngelanggar? Apa tindakannya itu bikin banyak kerugian? Bukannya kekuatan dan kemampuannya justru bisa menyelamatkan banyak orang? Ini ganggu ketenangan batin gw.

Keenam, dan semoga gangguan yang terakhir buat gw, adalah untuk berapa purnama lagi Elang akan pergi untuk kembali? Apa Dara harus menunggu belasan tahun seperti Cinta? Eh, beda film deng yah.

Pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang dan orang yang pantas memimpin adalah justru orang yang paling tidak mau memimpin, seenggaknya itu pesan moral yang gw tangkap dari film ini. Apalagi kalau sambil memikirkan kata-kata Angin sebelum akhirnya tewas setelah bertarung dengan Biru dan Gerhana, yang mungkin harus gw paraphrase karena gw agak sedikit lupa kata-kata pastinya:

“Jiwa yang besar tidak mengharapkan apa pun walau bisa mendapatkannya, sedangkan jiwa yang kerdil menginginkan semuanya meski tak akan mampu mendapatkannya.”

Secara keseluruhan film ini menawarkan cerita yang tidak sama sekali baru namun dikemas dengan sinematografi, pemandangan alam dan koreografi silat yang dapat dengan mudah membuat siapa pun terpesona dibuatnya. So guys, semoga makin banyak deh film bermutu kayak gini ya. Aamin.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 80 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Hak Frekuensi Publik Dirampas Selebritas

Close