Mama

Mama jarang sekali menangis, seingatku dia hanya menangis saat aku harus dioperasi karena gangguan syaraf tulang belakang dan saat aku wisuda. Walau saat wisuda beliau menangis hanya karena aku menolak keras memakai kebaya dengan alasan tidak akan ada yang lihat karena tertutup toga dan berakhir dengan aku menyerah memakai kebaya dengan bawahan CELANA dan bukannya kain.

Mama jarang sekali mengeluh, semua kesulitan ditelan bulat-bulat agar anak-anaknya tak ikut meresahkan khawatirnya. Saat papa yang hanya seorang tentara tidak selalu berhasil mencukupi kami, mama selalu sigap menutupinya dengan mencari penghasilan tambahan sendiri dengan menerima pesanan kue untuk arisan atau acara lainnya.

Mama jarang sekali terlihat lemah. Bahkan saat terserang stroke, dia sedang berada di Taman Mini Indonesia Indah untuk ikut acara manasik haji adik terakhir kami yang saat itu masih TK (sekarang bocah itu sudah berumur 8 tahun dan sudah kelas 3 SD) dan sekarang Mama sangat sehat bahkan kelewat lincah dan hanya perlu kontrol ke rumah sakit sebulan sekali. Alhamdulillah

Mama jarang sekali bilang lelah padahal semua urusan rumah tangga dia yang mengerjakan karena kami anak-anak gadisnya sibuk bekerja dan kuliah dari pagi sampai malam tiba. Bahkan di usianya yang kini sudah 50 tahun lebih dia masih eksis belanja dan beberes sendiri, alasannya supaya irit biaya asisten rumah tangga dan biar bisa gerak olahraga.

Mama tidak pernah memanjakan kami (kecuali si bungsu tentunya karena dia anak laki-laki semata wayang). Sejak kecil kami sudah dipersiapkan untuk mengurus diri sendiri; belajar mencuci, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Alasannya sederhana: karena kami perempuan dan suatu saat akan dibawa pergi oleh suami.

Mama jarang sekali meminta di saat kami anak gadisnya sudah berpenghasilan. Dia sudah merasa cukup dengan apa yang ada dan dia punya. Tak pernah baginya merasa harus berlebihan karena menurutnya cukup itu lebih baik.

Mama itu pawang binatang hebat. Dia mengusir anjing dan cacing yang paling kutakuti. Dia jagoan yang rela berjibaku dengan kepala ikan saat salah satu anaknya (aku) terlalu takut untuk makan ikan bila bisa melihat matanya.

Mama itu cenayang andal. Coba kau tanya barang apa pun yang tidak bisa kau temukan maka dalam hitungan detik, VOILA!, dia pasti berhasil menemukannya.

Mama itu arsitek hebat karena dia bisa membuatkan kursi kecil untuk adikku tanpa minta tolong papa. Dia bahkan bisa membantu papa saat harus membenarkan pagar yang rusak karena tiupan angin kencang.

Mama itu desainer top. Dia bisa menjahitkan baju dengan model paling kekinian untuk anak-anaknya tanpa perlu pola dan ukuran karena dia yang paling tahu tubuh kami. Dia bisa membedakan mana bahan yang harus dipisah saat dicuci dan suhu berapa yang tepat untuk mencuci saat yang kami bisa hanya membuat baju papa kelunturan warna lain.

Mama itu penata rambut profesional. Berkat dialah rambut kami selalu tertata rapi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.

Mama itu koki hebat. Dia bisa bikin masakan apa pun tanpa perlu buku resep dan takaran pasti. Dia hanya perlu menggunakan lidahnya untuk memastikan makanan itu akan kami semua sukai.

Mama itu buku ensiklopedia berjalan. Dia bisa tahu berbagai macam hal yang kami tanyakan walau mungkin jawabannya belum tentu benar.

Mama itu penggemar film India. Di kala kami semua sangat tidak menyukainya, Mama bisa menonton film ini berjam-jam lewat DVD yang dibelinya diam-diam.

Mama itu badut lucu. Dia bisa selalu membuatku tertawa saat semua masalah di Bumi seolah berada di atas pundakku.

Mama itu duniaku…

karena dia adalah alasanku di sini saat ini.

Selamat Hari Ibu, Ma! Sehat terus, bawel terus, heboh terus tapi jangan marah-marah terus.
Love from us, your children.
And from all human in this world.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 27 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Pendekar Tongkat Emas” (2014)

Close