“Klik” yang Beda

Membaca sebuah artikel dari Linimasa yang ngebahas tentang alasan kenapa seseorang akhirnya bisa memutuskan untuk menikah, untuk merelakan kebebasannya bersosialisasi terenggut begitu saja dan merelakan hidupnya sampai mati (kalau bisa) bersama satu manusia dengan segala risiko yang nggak mungkin diselesaikan cuma dengan cinta bikin gw sedikit ngawang antara bengong dan nerawang tentang realitas sesungguhnya pernikahan dan idealismenya yang bertolak belakang. Banget.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa kerelaan tersebut nggak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata, itu hanya sebuah “klik” yang terjadi begitu saja. Bukan nggak perlu usaha, daya dan upaya tapi nggak perlu juga ngoyo dan mekso, pokoknya ya ujug-ujug aja gitu atau bahasa jawanya mak mbedunduk. Susah bangetlah pokoknya dijelasinnya.

“Klik” ini beda loh sama cinta, mau lo cinta sama seseorang pun kalau lo nggak “klik” mungkin lo nggak akan berani juga ngelepas kebebasan hakiki lo sebagai seorang manusia. Nah bingung kan lo? Gw yang nulis juga bingung kok.

Terus apa cukup cuma sama si “klik” ini? Oh tentu tidak masih ada beragam aturan ini-itu yang harus dipenuhi kedua mempelai dan ada momok yang harus dihadapi lagi, yaitu momok dari semua momok, yang lebih sakral bahkan dari si “klik”. Cinta dan agama serta restu orang tua. Nah lho.

Seolah nggak cukup berat perjalanan anak manusia di bumi ini, bahkan saat memutuskan berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya pun masih ada saja hal yang bikin mules. Fiuh. Padahal sejatinya restu itu adalah hak seorang anak dan orang tua wajib memberikannya. Sadiis.

Lalu tiba-tiba gw kepikiran sesuatu, sesuatu yang lagi gw alami dan mungkin juga lagi dialami ratusan masyarakat Indonesia lainnya, “klik” yang beda. Hmmm. Beda apanya nih? Kelaminnya? Ya iyalah (kalau gw). Apa orang tuanya? Apalagi yang itu.

Perbedaan di sini banyak banget loh, padahal “klik” nya sendiri cuma sebiji doang dengan rasa yang sama dan tafsiran serupa: kupu-kupu di dalam perut.

Di Indonesia yang hukumnya masih serba campur aduk (hukum Belanda, hukum Islam, hukum Adat dan hukum-hukum lainnya) menikah itu bukan lagi urusan dua orang anak manusia. Saat lo menikah yang akan lo persatukan adalah dua buah keluarga yang punya bibit, bebet, bobot yang sangat-sangat berbeda. Nah pusing nggak sih?

Di satu sisi lo cuma mau ngejalanin pelengkap ibadah tapi di sisi lain ada keluarga besar yang kadang maunya nggak cuma bisa disandingkan dalam satu kata saja.

Maka saat menikah justru menjadi pesta “orang lain” akan ada beberapa hal yang dikorbankan, katakanlah mungkin justru kebahagiaan kedua mempelai. Kenapa gw bilang justru pernikahan yang “keroyokan” itu jadi penderitaan buat mempelai? Soalnya kadang pernikahan mempelai nggak lagi didasarkan cinta tapi sekadar restu orang tua. Ngenes.

Beda suku

Ini masih banyak kejadian di Indonesia. Nggak percaya? Tanya sama teman lo yang orang Batak. Buat orang suku Batak, terutama perempuan adalah suatu keharusan mencari pasangan yang juga orang Batak.

Ini gw nggak mengeneralisasi lho ya, tapi dua dari tiga orang teman gw saat ini lagi bingung nyari laki-laki Batak untuk dinikahi dan diminta membuahi.

Alasannya? Apalagi kalau bukan meneruskan darah Batak keluarganya. Itu masih belum termasuk kendala ada marga yang nggak boleh dinikahi karena masih kerabat. Jadi kadang teman gw akan curhat dengan ngenes, setelah berbunga-bunga ketemu laki-laki Batak yang idaman banget nggak taunya ito-an (bersaudara). Nyesek.

Beda kasta

Nah, kalau yang ini gw yakin banget masih ada aja gitu yang mempermasalahkan. Kasta yang gw maksud bukan cuma kasta yang dikenal di masyarakat Bali ya tapi juga “kasta” dalam hal jenjang sosial di masyarakat Indonesia. Si kaya nggak akan mau besanan sama si miskin, semua harus diukur dari materi atau kalau kasta yang kita kenal dalam budaya Bali, seorang Brahmana nggak akan diizinkan menikah dengan seorang Ksatria apalagi Sudra.

Hubungan beda “kasta” ini biasanya dipercaya atau disumpahi nggak akan berlangsung lama dan langgeng. Padahal kalau menurut gw – sebagai orang yang belum pernah nikah – hubungan itu balik ke komitmen yang menjalaninya. Ya nggak sih?

Beda agama

Ada yang kayak gini? Kalau ada mari sini merapat kita saling rangkulan dan nangis tipis-tipis. Hiks.

Masalah ini memang yang paling sering terjadi, bahkan cinta dan restu yang sudah didapat nggak cukup untuk melancarkan pernikahan ini karena negara sendiri tidak akan mengakomodasi seperti yang tertuang dalam pasal 2 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan (baca sendiri biar lebih jelas).

Apa? UU ini nggak relevan lagi? Yah mungkin lo bisa ngajuin ke para legislator kayak beberapa orang di pertengahan tahun lalu yang minta UU ini direvisi.

Jadi kalau lo mau nikah beda agama selain melepaskan hak hukum lo untuk menikah dengan upacara keagamaan dan keyakinan yang lo percaya adalah keluar ongkos besar untuk menikah di luar negeri. Ribet? Harus ada harga yang dibayar kan?

Beda dari yang biasa

Kalau hampir semua “klik” di atas lainnya yang sudah gw jelaskan adalah hal biasa yang akan lo temui bukan cuma di sinetron tapi juga di kehidupan nyata, lain lagi sama “klik” yang ini. “Klik” yang ini justru menjadi tabu karena kesamaan yang mereka miliki. Maksudnya?

Kalau normalnya sebuah hubungan terdiri dari sepasang adam dan hawa, maka “klik” yang ini sangat-sangat berbeda, “klik” yang ini justru terjadi pada sesama adam atau sesama hawa. Nah lho.

Di kota-kota besar di Indonesia – gw nggak tahu ya kalau di kota yang lebih kecil – bukan suatu hal luar biasa kalau tiba-tiba lo ngeliat laki-laki gagah yang pasangannya nggak kalah gagah dari dia atau mungkin lo liat perempuan yang dandan kelaki-lakian bergandengan mesra dengan perempuan cantik dengan dandanan ke arah centil. Serius itu hal biasa.

Perubahan zaman memang kadang membawa perkembangan yang tidak biasa, yah yang kayak begini ini misalnya. Namun norma dan adat kebiasaan nggak akan pernah berubah, maka lagi-lagi “klik” yang ini nggak akan pernah lolos pindai.

Terus bagaimana mau membuhulkan hubungan yang memang murni cinta ini? Cari tabir asap. Maksudnya? Ya menikah yang “normal” hanya untuk menutupi hal itu atau mungkin bisa cari negara yang melegalkan hal tersebut.

Jadi ketika menikah bukan lagi sekadar mementingkan klik, agama dan restu orang tua, maka akan muncul harga yang lebih besar untuk itu. Ya kan?

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 26 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Menyambut Film “Stand By Me Doraemon”

Close