Bukan Kaleidoskop 2014

Kalo situs lain sibuk menyajikan kaleidoskop sepanjang 2014 kami memilih gak sibuk. Kenapa harus sibuk ketika anak sekolah dan banyak pegawai lainnya liburan?

Kami hanya ingat… ketika memilih sikap bodo amat terhadap pernikahan megah Raffi Ahmad.

… ketika ibu pertiwi memuja-muja Jokowi dengan bahasa sastrawi setelah ia terpilih untuk duduki kursi tertinggi RI.

… ketika mengikuti masyarakat yang mengutuk pasangan pembunuh Ade Sara agar sengsara masuk neraka.

… ketika tertohok oleh pertanyaan ‘What The Fuck?’ yang begitu besar ketika ada gubernur tandingan Ahok – gubernur Jakarta – yang rumahnya di Bekasi.

… ketika merasa miris sampai hampir menangis melihat kumpulan manusia bengis pemenggal kepala yang sama sekali gak apologetis seperti ISIS.

Dan yang terakhir ketika berduka untuk saudara kita yang meninggal akibat pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ8501 tenggelam di samudera. No words can’t describe this devastating loss.

Kaleidoskop sebenarnya dipakai buat apa sih? Lebih dari sekadar mengenang, ringkasan berita setaun penuh itu, menurut kami ya buat bekal mengarungi hidup di tahun yang baru. Supaya belajar dari kesalahan. Dan jika ditarik simpulan dari kaleidoskop di atas keselamatan adalah hal yang utama yang harus dijaga.

Apa tempat yang paling rentan untuk mengancam keselamatan lo? Jalan? Sepanjang tahun kita pasti berada di jalan. Namun, jalan mana pun memiliki seribu cerita sendiri yang terkadang gak aman dan gak masuk akal. Absurdity.

Absurd #1: Temer/timer/lebih mudah dieja preman

Pernah gak sih lo mikir siapa yang pertama menguasai tanah? Dan bagaimana bisa dia berhak menjualnya ke orang lain padahal tanah itu diberi gratis sama Tuhan? Gw pernah mikir gitu dan gak ketemu jawabnya. Hal ini juga terjadi di tengah sengkarut angkutan kota.

Gw bingung dengan sistem kerja mangkal-tapi-disuruh-bayar- ini karena tiga hal. Pertama, karena preman gak sekolah. Kedua preman gak capek. Ketiga preman cuma modal ngomong kenceng. Lantas kenapa sopir angkot – yang capek kerja – harus bayar sama preman yang kerjanya teriak-teriak trayek doang? Kenapa preman ditempatkan di hierarki tertinggi di jalan?

Dan yang lebih pandirnya adalah kadang ada preman yang nyuruh sopir untuk maju ke tempat yang ditunjuknya agar angkot lain yang antre bisa maju – supaya mereka dapet duit palakan lebih banyak. Mereka jadi galak banget kayak polisi. Nah si sopir, gak kalah pandirnya, nurut aja untuk maju. Bahkan ketika penumpang belum juga duduk dengan aman di dalam angkot. Akibatnya sering kali mereka terjengkang. Gara-gara preman yang mirip selangkang.

Oh ternyata, kalo lo mau menyelisik, preman juga harus ‘nyetor’ ke pihak berwenang, baik itu petugas Dishub atau polantas. Maaf, sebut saja oknum, untuk menghindari generalisasi gegabah. Angkot yang ngetem dan bikin macet logikanya harus ditindak tapi mereka gak bisa memenuhi kuota penumpang kalo terus bergerak. Kompensasinya? Ya, kasih pelicin kepada penguasa jalan untuk minta izin bikin macet. Itu cuma satu pelanggaran. Masih banyak cerita lagi pelanggaran disengaja di jalan yang bisa bebas dilakukan dengan duit pelicin ke penguasa. Keren kan?

Absurd #2: Anak belum akil balig naek kendaraan bermotor

Pandir. Orangtua dan anaknya. Enough said.

Absurd #3: Xenon

Zaman dulu bokap gw sering ngomel ketika nyetir di depannya ada yang nyalain lampu panjang. Egois, katanya. Tapi zaman sekarang mungkin dia bakalan kehabisan kata. Motor dan mobil sekarang udah pake lampu xenon. Menerangi jalannya, membutai mata orang lain.

Absurd #4: Motor naek trotoar

Di Jakarta, macet udah jadi santapan sehari-hari tapi rasanya para pengendara motor masih ada yang belum terima dengan kenyataan ini. Kadang karena gak sabar antre, ngelawan arah, kedinginan karena sempaknya basah keujanan, mereka naek trotoar.

Buat gw orang kayak gini gak mau terima kenyataan hidup. Hidup kadang harus berada di bawah dan gak bisa melakukan apa pun selain berserah. Pun halnya berkendara di jalan raya, kadang memang jalanan macet dan gak bisa bergerak ketika lampu berubah merah. Live with it!

Apa pun alasan mereka sangat gak bisa diterima jika mereka sudah disediakan jalan segitu gede tapi masih merebut hak pejalan kaki juga. Sering kali pejalan kaki yang protes kepada mereka dan meneriakinya malah dibales diteriakin dengan mulut yang lebih judes. Mungkin di trotoar harus ditanami spike yang bisa bikin ban meletus tapi aman buat pejalan kaki.

Jadi itulah kaleidoskop yang bukan kaleidoskop sekaligus harapan di tahun 2015 dari kami. Semoga tahun depan sukses dan jangan jadi bagian apalagi korban dari kebodohan di jalan.

Cheerio,

See you next year.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 31 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Mama

Close