Tiga Kalimat Haram dalam Percakapan

Mengobrol pernah begitu menyenangkan ketika tidak ada intensi untuk memosisikan diri lebih tinggi dari lawan bicara. Obrolan yang enak buat gw adalah ketika bisa selalu tek-tok. Sama-sama gak menonjol dan ada kalanya hanya perlu mendengar tanpa harus berusaha terlibat apalagi berdebat karena memang sering kali kita tidak sependapat.

Tapi kadang obrolan jadi berubah gak menyenangkan saat orang mengucapkan kalimat-kalimat yang haram dalam percakapan. Sebenernya gak haram juga sih karena setau gw ngobrol belom jadi agama. Jadi berikut tiga kalimat yang seharusnya gak lo ucapin tapi kadang gak tahan untuk melontarkannya.

“Berapa gaji lo?”

Ini dia masalah orang Indonesia, suka banget kepo masalah uang. Segala sesuatunya diukur materi. Gak peduli seberapa deket lo sama orang yang lo ajak ngobrol usahakan jangan pernah tanyakan ini. Beberapa orang akan gak nyaman ketika ditanya ini. Mereka menganggap lo pasti akan membandingkan, menertawakan dan yang paling parah nyebarin itu ke circle friends lo berdua.

Enteng emang bertanya gitu kalo lo yakin gaji lo sendiri udah cukup dan gak ngerasa (mungkin) insecure kayak orang yang lo tanya. Tapi coba keadaannya dibalik. Misalnya lo ketemu sama Bill Gates, apakah lo akan tetap menanyakan gajinya yang gak perlu ditanya? Apa masih ada kepuasan setelah nanya hal yang jawabannya udah jelas akan membuat lo merasa rendah? Bukankah sifat dasar manusia gak suka untuk menjadi inferior?

Bersama dengan “Apa agama lo?”, pertanyaan tentang gaji ini seharusnya jangan pernah diucapkan. Lho, kenapa tiba-tiba jadi nyambung ke agama? Itu karena pertanyaan tentang agama juga sering banget ditanya di Indonesia.

Mengutip Gus Dur, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu” atau jika kutipannya diganti jadi lebih gaji-esque,

“Tidak penting [berapa] pun [gaji] atau [jabatan]mu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang [seharusnya] tidak pernah tanya [berapa gajimu].”

So, why bother asking? It’s a matter of privacy. A very serious privacy.

“Bukannya gw sombong, tapi…”

Pernah gak lo ketika lagi cerita sama temen ngomongin prestasi, temen lo nyambung dengan bilang “Bukannya gw sombong, tapi gw dulu [isi dengan pencapaian yang membanggakan]”? Itu turn-off banget dalam percakapan. Detik ketika lo menyelesaikan frase ‘bukannya gw sombong’, lo udah terlihat sombong. Yang namanya gak sombong ya gak membanggakan diri. Sama sekali… Yah, dikit gak apa-apa sih sebenernya.

Sebenernya orang gak akan sebegitu nyadarnya lo lagi sombong, kalau saja lo tidak mengawali kalimat dengan frase itu. Itu sama dengan mau nampar orang tapi lo bilang dulu sama orangnya. Orang itu pasti akan menangkis. Defensif.

Terlebih kalo itu terjadi di masa lalu, tak ayal itu akan menambah kebetean lawan bicara. Pun mereka akan defensif terhadap omongan lo. Dan selanjutnya akan antipati karena menurut mereka lo sombong. Ya udah lah, kejayaan di masa lalu gak usah dibawa-bawa lagi. Biarlah prestasi lo dikenang harum oleh orang lain, bukan lo sendiri. Fokus lo sekarang adalah untuk membuat prestasi lagi. Let the past stay in the past. Jenderal Sudirman diberi gelar pahlawan bukan oleh dirinya sendiri, kan?

Mungkin sombong jadi lebih asik kalo ngomong, “Guys, jadi gw tajir banget nih, lo pada mau ditraktir apa?”

“Iya temen gw juga ada tuh”

Nah, ini dia kalimat yang paling sering terlontar saat ngobrol. Iya, paling sering. Gw sendiri juga secara gak sadar sering mengatakannya tapi karena gw anggap itu menyebalkan maka sekarang gw agak menguranginya. Ketika berbicara tentang sesuatu yang hebat, grande, akbar, adiluhung, orang akan cenderung gak mau kalah saing. Akan selalu sulit untuk mengaku takluk oleh lawan bicara terlebih kalo gak ada lagi kualitas dalam dirinya yang layak untuk dibanggain. Makanya untuk menutupi itu kadang orang gak tahan untuk ngomongin temennya. “Temen gw inilah-itulah…” Pokoknya yang keren-keren dengan kata-kata komparatif  atau bahkan superlatif dibandingkan lawan bicaranya.

Kenapa kalimat itu bisa jadi masalah? Pertama karena temen yang sekarang lagi ngobrol sama lo ini mungkin (biasanya sih pasti) gak kenal sama orang yang kehebatannya lagi lo banggain. Jadi lo gak bisa berharap lawan bicara lo tertarik sama itu. Dia cuma tertarik sama orang yang ada di hadapan mukanya. Jadi cari kalimat lain yang lebih menarik. Itu pun kalo lo mau obrolan dua arah yang berkesinambungan karena orang yang lo ajak ngobrol itu akan gak tau harus jawab apa tentang temen kebanggaan lo itu.

Kedua, kehebatan dia gak relevan (≠) sama sekali dengan kehebatan lo. Jadi buat apa dibanggain berlebihan? Ini sama dengan kecenderungan orang yang kadang suka pamer lagi baca buku dari penulis terkenal.

Membaca buku bisa jadi kebanggaan sendiri buat orang itu, malah kadang dia lebih bangga daripada penulisnya sendiri. Maksudnya, ya mbok jangan terlalu bangga ketika hanya jadi pembaca bukan penulisnya karena yang paling tepat dipuji kan penulisnya. Emang sih banyak membaca bagus untuk memperluas pola pikir tapi apa perlu segitunya pengen dipuji karena udah membaca tulisan penulis terkenal? Riya, tau.

Selamat mengobrol.

Cover story: Pria tak bermulut yang dipenggal Wolverine itu namanya Deadpool. Sebelumnya dia terkenal cerewet dan ketika ‘dibangun’ lagi jadi mutan serbabisa, mulutnya diilangin, mungkin sebagai penyempurnaan. Hikmahnya? Ati-ati Wolverine gak suka orang ceriwis.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 77 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Curhat dan Soal Mendengarkan

Close