Tidak Dilabeli Pun, Aku akan Tetap Ada

Pernah ga sih kalian bosan dengan segala label? Misalnya; “Lo kan cewek, mana ngerti beratnya jadi cowok?”, “Lo ga pernah sih diputusin, mana tahu rasanya sakit hati?” dan “Lo anak orang kaya, mana tau susahnya hidup?”

Dan bla bla bla lainnya.

Ya manusia adalah makhluk yang paling mudah melabeli sesuatu. Sayangnya kadang pelabelan itu merepotkan. Jangan kira karena sekarang kerjaan gw nulis maka semua kebutuhan gw soal menulis terpenuhi. Jangan kira karena gw cewe makanya gw bisa males-malesan di rumah.

Ayolah kita sadar betul betapa hidup di zaman ini mudah sekaligus sulit. Manusia zaman ini tuh emang demen nyakiti diri sendiri. Berapa banyak keluhan yang lo lihat tiap hari di halaman jejaring sosial? Berapa banyak lo denger seorang kawan mengeluhkan gajinya yang ga pernah cukup tapi masih ga cari kerja lain dan cabut aja dari kantornya?

Dan gara-gara itu semua, ada yang melabeli lo pasti sama kayak temen lo yang demen ngeluh. Ada temen lo yang lulusan mana kerja males-malesan, dan karena lo sekampus sama doi lo pun akan dinilai sama malesnya.

Dan bla bla bla lainnya.

Sedari kecil kita udah dicekoki betapa manusia adalah makhluk sosial. Ketika gedean dikit lo bisa menentukan mana yang bisa dikerjakan sendiri dan mana yang harus minta tolong. Mana yang bisa diselesaikan dan mana yang tidak.

Masalahnya, sedari kecil juga kita udah membawa dosa bawaan padahal semua bayi konon suci dan tanpa dosa. Lo akan dilabeli anak haram saat lahir tanpa ayah. Lo akan disebut orang kafir saat ga memilih agama mana pun meski percaya Tuhan. Maka jadilah kita manusia yang dijidatnya sudah tertulis dan dilabeli sendiri-sendiri.

Apakah kita mampu menghilangkannya? Gw orang yang percaya bahwa harusnya label itu bisa kita hapuskan. Jokowi tengah membuktikan dengan “kerja, kerja, kerja,” meski di kabinetnya para menteri banyak yang tengah menggadaikan negara ini. Susi Pudjiastuti lagi bekerja keras banget untuk membuktikan dirinya kompeten karena dia ga lulus SMA, tatoan dan perokok. Christopher Nolan lagi membuktikan bahwa dia bisa selalu berkembang dalam membuat film meski tetap memusingkan.

Tapi bukankah itu gambaran bahwa hidup bukan hanya label yang tertulis di jidat? Jokowi lagi membuktikan bahwa “wong cilik” bisa jadi presiden. Risma berjuang untuk tidak tergerus. Masa iya kita ga bisa melawan dari dosa bawaan yang dibuat manusia?

Kalau Chairil Anwar bilang sih “Hidup adalah kesunyian masing-masing.” Gw sih bilang, hidup cuma sekali dan gw ga rela dilabeli cuma karena gw perempuan dan semua atribut yang gw gunakan.

Atau kalau mau lebih keren sih kata GM, “Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tidak disangka-sangka.”Kita bisa jadi apa pun, jadi apa seperti yang dipikirkan orang lain, atau malah menjadi diri dengan cara yang dipilih sendiri.

NB: Saya menulis ini saat tidak bisa tidur. Error margin bisa sampai 90%.
Tabik!

Stay updated! Follow us on:

Teti Purwanti
Find me

Teti Purwanti

Penikmat kata-kata indah.
Teti Purwanti
Find me

Latest posts by Teti Purwanti (see all)

(Visited 26 times, 1 visits today)

Teti Purwanti

Penikmat kata-kata indah.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Jadi Orang Indonesia a la Sacha Stevenson

Close