Fenomena Konyol Para Perokok

Sebenernya gw pengen banget nulis serius mengenai rokok, kaya’ artikel-artikel kesehatan, namun berhubung pengetahuan kesehatan gw yang pas-pasan dan tidak bisa diandalkan ditambah pola hidupa sehat gw yang jauh dari harapan, gw semakin yakin si admin laman ini pasti bakal men-delete tulisan gw sambil bilang “tangan lau aja masih gemeter boi…boi…, mau nulis kesehatan.”

Buat elu yang pernah mengalami kejadian konyol serupa ngga perlu berkecil karena karena kalian ngga sendirian 🙂

1. Mendadak klepto

Berdasarkan survey (ala mantan mahasiswa yang tiga kali ngulang statistik) ternyata banyak perokok yang cenderung tidak membawa korek mereka sendiri saat merokok bersama teman-temannya. Bahkan sahabat gw sendiri juga menjadi pelaku modus operandi yang biasa disebut “curanrek” ini. Bayangkan dalam sehari dia pernah membawa pulang tiga korek api, parahnya lagi dia tidak ingat siapa saja si empunya korek-korek itu.

Meski demikian ada hal yang menyanyat hati dan memilukan kalbu dari si doi. Beberapa hari yang lalu gw terharu waktu ngeliat teman satu kosan gw berinisial D.A. tersebut mencari artikel mengenai gejala-gejala klepto, tampaknya dia mulai menyadari obsesi terpendamnya terhadap korek.

2. Terbalik

Pengalaman ini sering gw alamin kalo lagi ngoborol bareng teman-teman. Entah kenapa rokok terasa berat saat diisap, tak hanya itu aromannya pun menjadi tidak nikmat. Dan setelah seorang teman bengong dengan metode merokok tak lazim ini, gw baru nyadar kalo yang gw bakar adalah bagian filternya. Syukurlah gw bukanlah satu-satunya korban hilangnya konsentrasi yang mengakibatkan sindrome gagal paham dalam merokok ini. Ternyata banyak perokok di luar sana yang juga mengalami hal yang sama.

3. Tetap diisap meski tak sesuai selera

Kalau yang ini kadang sering bikin gw gondok sendiri, entah apa yang dipikiran mereka (temen-temen gw yang perokok aktif) saat kehabisan rokok khas mereka sendiri lalu mengisap rokok lain (yang diberikan secara gratis dan iklas oleh rekannya) sambil ngedumel, “duh rokonya gini euy, berat bla…bla…bla…” Kalau mereka ngga suka padahal kan ngga usah minta rokok, beli aja sendiri.

Pernah terbesit di pikiran gw untuk membubuhkan salah satu bubuk perasa pedas yang tidak perlu sebutkan namanya (bernama Bon Cabai) ke rokok gw untuk ngasih mereka pelajaran mengenai “rasa baru” pada rokok gratisan, namun hal itu gw urungkan karena gw tahu bagi mereka sangat sulit untuk tidak merokok, bahkan meski harus berbeda dengan rokok yang biasa mereka isap.

4. Mendadak kreatif

Untuk yang satu ini gw juga ngga habis pikir, entah kenapa sohib-sohib gw yang memiliki sindrom pemalas tingkat akut serta IQ mendadak terjun bebeas ketika disuruh mikir (termasuk gw) bisa mendadak kreatif saat menyangkut abu rokok.

Semesta tampaknya memberi ilham saat kami harus berhadapan dengan abu rokok. Gw sendiri tampaknya pernah kerasukan roh Macgyver dan secara tiba-tiba “jlenggggg” tangan terampil gw langsung merangkai kotak rokok menjadi asbak (yang tentu saja mudah terbakar karena terbuat dari kertas, meski roh Macgyver sudah merasuki tapi dia tidak bisa mendongkrak IQ sang pemilik otak ini).

Begitu pun dengan teman-teman gw  sesama perokok, mereka bisa memodifikasi botol salah satu minuman kemasan bermerek akuwa dan botol larutan hewan bercula satu yang dilindungi hingga kaleng bekas minuman. Sayangnya kemampuan kreatif kami langsung sirna saat berhubungan dengan pekerjaan.

Stay updated! Follow us on:

I W Yoga
Find me

I W Yoga

A part of silent majority
I W Yoga
Find me

Latest posts by I W Yoga (see all)

(Visited 26 times, 1 visits today)

I W Yoga

A part of silent majority

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Gonjang-Ganjing Menteri Eksentrik Susi Pudjiastuti

Close