Ulasan Animasi “Big Hero 6” (2014)

Siapa yang suka film kartun? Gw sih gak. Gw MENGGILAINYA. Makanya ketika ada berita “Big Hero 6” bakal tayang, gw langsung seneng, gak sabar nunggu film itu tayang. Nah, karena ulasan film biasanya gak lebih dari sekadar retelling dan spoiler di sana-sini, gw mencoba format baru untuk mengulas film ini. Tujuannya ya biar gak mengecewakan penggemar kartun – kayak gw – yang udah pengen bgt nonton tapi belum sempet dan malah baca ini duluan.

Tokoh utamanya adalah Baymax, robot gembul yang canggih tapi agak polos bloon yang dibuat untuk asisten kesehatan manusia. Terus ada Hiro dan Tadashi Hamada, kakak beradik penyuka robot. Untuk meramaikan suasana, ditampilkan juga teman-teman Tadashi yang akhirnya menjadi teman Hiro; Fred, GoGo Tomago, Wasabi, Honey Lemon. Dan dua pemeran pendukung utama Profesor Robert Callaghan dan Alistair Krei.

Gw akan mencoba format baru review dengan menganalogikan film ini sebagai seseorang dengan sifat-sifatnya. Berikut sifat-sifat dari seorang “Big Hero 6” menurut gw.

Jago plesetan

Siapa bilang plesetan itu udah gak zaman? Iklan masih sering make plesetan untuk bikin tagline yang catchy, film ini juga begitu. Plesetan ini dipakai dalam penamaan setting tempat dan tokohnya. Alkisah film ini mengambil lokasi di sebuah kota fiktif San Fransokyo. Yep, jelas kan itu plesetan dari apa? San Francisco dan Tokyo yang dilebur jadi satu maka jadilah San Fransokyo.

Lalu penamaan karakternya juga diwarnai plesetan. Tadashi Hamada, kakak dari karakter utama, terbukti sangat praktis dalam penamaannya. Tadashi dalam bahasa Jepang berarti benar, akurat, setia atau percaya. Itu terpancar jelas pada atribusi penokohannya. Dia sangat cermat dan pantang menyerah mengerjakan proyek robotnya – Baymax – meski gagal puluhan kali. Tadashi juga tetap setia meski adiknya, sama seperti kebanyakan adik-adik lainnya, terlihat tidak mengacuhkannya.

Sedangkan untuk karakter utamanya, Hiro Hamada, lebih kentara lagi. Hiro dalam bahasa Jepang berarti royal, baik, toleran, kaya. Hiro di sini memang kaya akan kecerdasan. Otaknya yang genius berada di atas rata-rata untuk anak seusianya. Dan karena film ini berbahasa Inggris, bukan Jepang, gw langsung mengasosiasikan Hiro dengan hero. Bukan, ini bukan Hero pusat perbelanjaan saingan Giant itu. Tapi hero yang berarti pahlawan. Kenapa Hiro bisa jadi hero? Tonton aja sendiri.

Kebarat-baratan

Gak jarang banyak orang Indonesia yang kebarat-baratan. Ada yang pake boots, syal bulu tebal dan kacamata hitam di siang hari. Kalo ada musim dingin di sini sih fashion kaya gitu boleh diterapkan. Tapi di sini adanya musim ujan, bruder. Yang seharusnya lo bawa ya payung dan jas hujan.

Kira-kira begitulah gambaran film ini kalo bisa dianalogikan. “Big Hero” ini sebenarnya adalah komik Marvel tapi buat gw ada akulturasi yang dipaksakan di sini. Sederhananya ya lewat gabungan San Francisco dan Tokyo itu. Buat gw agak gak pas aja sementara suara dubber-nya bahasa Inggris tapi setting-nya di Jepang. Plus, visualnya merupakan gabungan Amerika dan Jepang. Sebenarnya Amerika lebih menonjol di sini. Jepang jadi cuma tambalan untuk arsitektur, bunga sakura, dan plang reklame di pusat kota.

Memang sih ini sama sekali gak haram karena bisa saja San Fransokyo adalah sebuah negara fiktif yang tidak bisa atau bahkan tidak boleh diasosiasikan dengan dunia nyata, laiknya salju yang tiba-tiba turun di “The Raid: Berandal”. Sang sutradara bersikeras setting-nya bukan Jakarta dan salju dipilih untuk menambah kesan dramatis darah yang mengalir setelah para petarung saling bunuh. Makanya dia bebas menampilkan salju yang gak ada di Jakarta.

Gak perlu ada relevansi dunia nyata dan dunia fiksi dalam film. Tapi penamaannya yang sama dengan yang ada di dunia nyata, mau gak mau membuat penonton menarik referensi yang mereka tahu dari dunia nyata. San Fransokyo di film ini dan gerobak lomie ayam di “The Raid” bisa dibilang jadi blunder kedua film ini untuk tampil total memukau, jika memang ditujukan untuk membuat suatu entitas dunia fiksi yang baru sama sekali.

Humoris

Lucu menurut definisi lo itu kayak gimana? Dialog yang cerdas, visual karakter yang imut, atau ngeliat orang kepeleset aja udah bisa bikin lo tertawa sampai nangis? Kalo lo termasuk dalam kelompok orang yang terakhir, film ini cocok banget buat lo.

Serius deh, ini film yang sangat menghibur dan lucu. Kejenakaan yang ditampilkan sangat universal, cocok buat anak-anak maupun orang dewasa. Meski banyak yang mengkritik Opera Van Java dulu karena lelucon praktisnya, akui aja kita masih sangat terbahak menertawai lelucon slapstick. Di film ini banyak banget adegan slapstick dan gesture yang lucu dari Baymax yang chubby kayak marshmallow dan pengen banget dipeluk ini.

Sepanjang film ini ada aja adegan Baymax yang bikin ketawa. Gerakan tubuh, dialog dan wajah sederhana – cuma mata dan segaris hidung horizontal, mengundang gelak tawa dari penonton.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur. Sutradara yang menggarap ini sebelumnya sudah menggarap “Wreck It Ralph” dan “Frozen” yang fenomenal itu.

Ingat, kalo lo memutuskan untuk nonton “Big Hero 6”, lupain lo pernah baca tulisan ini. Terjemahkan sendiri film ini dan yang paling penting: nikmati setiap adegannya. Ulasan ini sama sekali gak ditujukan untuk mengekang interpretasi lo terhadap film ini. Selamat menonton!

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 534 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Bernostalgia Lewat Reuni “Ada Apa dengan Cinta” (AADC)

Close