Bernostalgia Lewat Reuni “Ada Apa dengan Cinta” (AADC)

Siapa coba yang nggak tahu film “Ada Apa dengan Cinta” atau AADC? Yes, film ini adalah akar tumbuh kembangnya film nasional Indonesia. Gw sendiri baru bisa nonton film ini secara utuh saat gw kuliah, padahal film ini pertama kali dirilis saat gw kelas satu atau dua SMP. Alasannya, selain karena nggak dikasih nonton sama orang tua mengingat lokasi bioskop yang cukup jauh dari kompleks rumah, juga karena uang jajan yang dikasih ngepas, jadi nggak bisa nyolong-nyolong nonton. Tapi gw tahu dari teman-teman gw kalau film ini memang pas banget sasarannya, yaitu anak muda.

Dua belas tahun kemudian sebuah platform chatting yang sebenarnya sudah banyak dipakai pengguna smartphone membuat reuninya. Bukan, ini bukan acara kumpul bocah apalagi acara kongkow-kongkow. Reuni yang dimaksud adalah dengan membuat film pendek yang merupakan cerita lanjutan dari kisah kentang Cinta dan Rangga yang ngegantung di bandara. Oke mereka memang beradegan ciuman mesra di akhir film, tapi apakah mereka akhirnya jadian atau kemudian lupa begitu saja kan nggak dikasih tahu lagi.

Nah pintarnya platform ini adalah mengangkat cerita ngegantung nan nanggung itu untuk kemudian dibuat kisah pendeknya yang menceritakan kehidupan selanjutnya Cinta dan Rangga setelah Rangga dikisahkan harus ikut ayahnya tugas mengajar di New York.

Artis yang sama

Memang karena film pendek nggak semua tokoh bisa ditampilkan donk, tapi yang pasti yang muncul adalah artis yang menjadi inti cerita; Cinta, Rangga dan geng-nya Cinta (Milly, Karmen, Alya dan Maura). Yah bisa dibilang ini mengobati rasa kangen kita sama film yang sudah berusia 12 tahun ini.

Jalan cerita yang sederhana

Dari film pendek yang cuma ditayangkan di Youtube itu kita bisa ngelihat kehidupan Rangga di New York dan Cinta di Jakarta setelah 12 tahun perpisahan mereka di bandara dan pastinya diselingi adegan-adegan chatting-an guna mempromosikan si platform yang mengusung ide film pendek tersebut. Film ini dihadirkan tanpa terlalu banyak bunga tapi sangat tepat sasaran untuk mengobati rasa penasaran pecinta AADC yang nggak bisa disembuhkan dengan sinetronnya yang dulu pernah dibuat salah satu stasiun TV swasta. Hayooo… masih inget nggaaaak?

Sasaran yang tepat

Sasarannya tepat. Kenapa? Soalnya rata-rata yang megang smartphone itu memang kaum urban yang tumbuh dengan menonton film AADC dan menghabiskan waktu untuk jatuh cinta pada Dian Sastro Wardoyo dan Nicholas Saputra. Kyaaaaaaaaa (red: penulis artikel ini masih jatuh cinta sama Nicho).

Selain itu pula dari komentar beberapa orang yang dilayangkan untuk video tersebut, rata-rata sangat suka dan mengharapkan film itu dibuat panjang. Mereka juga memuji kreativitas platform chatting tersebut karena dapat menangkap pesona film lawas yang masih sangat diingat pencintanya.

Film tersebut menggunakan pesona luar biasa Dian Sastro dan Nicholas Saputra (kyaaaaaa) dan itu membuat film pendek ini sangat menarik untuk ditonton dan dibayangkan benar-benar dibuat sekuelnya.

Namun, dari film pendek yang keren ini tetap ada beberapa kekurangan. Ya sempurna itu memang cuma milik Tuhan, kan? Kayak ketidakmungkinan Cinta dan Rangga yang nggak berhubungan sama sekali selama 12 tahun atau Milly yang justru terkesan jadi tante-tante girang padahal tokoh awalnya adalah polos dan lemot. Tapi secara keseluruhan buat gw film ini tetap bisa mengobati rindu gw sama film-film berkualitas Indonesia.

Saran gw, ayo dibuat layar lebarnya sekalian biar tambah seru!

Nih buat yang belum nonton film pendek kelanjutan AADC.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 280 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Fenomena Konyol Para Perokok

Close