Curhat dan Soal Mendengarkan

Kita pasti suka curhat, iyalah selama kita hidup sebagai manusia pasti nggak akan terlepas dari yang namanya curhat. Bahkan untuk orang yang ngakunya pendiam sekalipun curhat itu suatu kebutuhan untuk meringankan beban perasaan, walau mungkin orang yang pendiam ini curhatnya nggak selalu frontal dan langsung tapi bisa saja curhatnya berbentuk curcol (curhat colongan).

Gw sendiri tipikal orang yang nggak bisa memendam perasaan. Maksudnya adalah saat gw ada masalah akan sangat kelihatan bagi orang-orang di lingkungan terdekat gw dan suasana hati gw yang mungkin kurang baik sedikit banyak bisa bikin suasana lingkungan gw berubah, apalagi karena gw termasuk orang yang cukup bawel jadi akan sangat aneh bagi teman-teman gw kalau gw sedikit bicara karena ada masalah.

Saat mau bercerita tentang beban hati biasanya gw mencari orang yang paling bikin gw nyaman, bisa pasangan atau mungkin beberapa sahabat dekat gw atau mungkin lo punya seseorang di luar kategori itu untuk curhat. Sayangnya nggak semua orang punya kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, yah katakanlah di saat lo lagi perlu curhat orang itu malah sibuk sama gadget-nya. Ngeselin.

Selain orang yang sibuk sama gadget-nya sendiri masih banyak tipikal orang yang mendingan nggak perlu lo jadiin tempat curhat deh ketimbang malah bikin lo tambah gondok.

Mau didengar tapi tidak mendengarkan

Sudah kodratnya sih manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang penuh dengan ego dan keinginan sendiri karena itu kecenderungan manusia untuk didengarkan selalu lebih besar daripada mendengarkan. Jadinya akan sangat kacau kalau lo curhat ke orang yang ngerasa lebih nelongso daripada lo, ya mereka akan merasa punya teman senasib sependeritaan dan bukannya mendengar masalah lo mereka akan sibuk menceritakan pengalaman mereka dalam menghadapi masalah yang sama. Fiuh.

Bukan pendengar yang baik

Kalau tipikal yang ini adalah tipikal orang ngeselin yang kedua. Mereka akan motong cerita lo yang masih ngegantung cuma untuk tanya ini itu yang sebenarnya nggak begitu berhubungan dengan cerita lo atau yang paling ngeselin dia akan sibuk dengan hal lainnya dan bikin lo ngerasa nggak didengar sama sekali. Untuk tipe yang ini biasanya sih menurut gw mereka nggak sabaran saja saat mendengarkan cerita lo atau tipe orang yang nggak bisa fokus.

Hakim

Tipikal ini nih yang paling ngaselin, setidaknya buat gw. Tipe ini adalah tipe yang gemar berperan menjadi hakim saat lo cerita. Yap, dia akan cenderung menghakimi setiap cerita lo dan tindakan lo walau mereka ngerasanya sih kayak ngasih saran gitu. Padahal mungkin saran mereka yang biasanya datang sebelum cerita selesai diceritakan justru ngebuat lo makin jatuh terpuruk. Nah lho.

Sebenarnya kebiasaan curhat itu adalah hal yang wajar, terutama di kalangan perempuan, walau nggak menutup kemungkinan untuk laki-laki melakukan hal yang sama juga sih. Apalagi sebagai makhluk sosial sudah kodratnya untuk melakukan hal itu. Bahkan nggak jarang kalau antarteman dekat selalu menceritakan masalah yang sama berulang-ulang tapi toh mereka saling mengerti dan mendukung, tujuannya satu, yaitu hanya untuk membuat tenang si pemilik masalah dan mempererat hubungan sosial yang ada. Iya kan?

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 48 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Tipe Penulis Kolom Komentar

Close