Korelasi Sifat Lebai dan Macet di Jakarta

Anda pekerja yang biasa keluar pagi dan pulang sore hari? Ya kira-kira pukul 06.00 WIB dan pulang pukul 16.30 WIB. Selamat Anda adalah orang yang sangat beruntung, karena Anda selalu diberikan ujian sabar oleh Tuhan. Dengan makhluk yang namanya pacar, eh salah maksudnya macet. Saya kira Anda yang menjadi warga kota besar pasti akrab dengan kata yang membuat saya bergidik itu. Tapi taukah Anda bahwa angka macet akan semakin bertambah tinggi dan parah jika Anda juga lebai? Macet dan lebai ternyata punya korelasi. Keduanya punya keterkaitan, mungkin kalau Jakarta dan macet adalah jodoh maka lebai adalah penghulu yang mengesahkannya menjadi semakin parah.

Macet di ibu kota Jakarta bukanlah hal yang baru, entah sejak kapan kota ini menjadi sangat penuh. Disesaki manusia yang mengharapkan terangnya lampu-lampu kota. Sebagian, mengharapkan penghidupan layak dan pendidikan yang baik. Kaum urban setiap tahunnya memenuhi Jakarta, dari kampung pergi ke Jakarta mengadu nasib. Salah satunya adalah saya yang telah tinggal di Jakarta 20 tahun. Menurut salah satu sumber bibit macet sudah ada sejak 1991 silam, artinya saya baru lahir saja megapolitan sudah macet.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia sendiri, macet bisa diartikan sebagai situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas. Yah kita semua juga sangat paham saya kira.

Kita selalu menyalahkan kenapa sih macet, dan yang paling sengsara adalah setiap gubernur baru dituntut untuk mengurai kemacetan lalu lintas. Tapi secara tidak sengaja kita tidak berbuat apa-apa. Jika saja kita sadar bahwa kita juga bisa turut membantu mengurai macet ini, bukan justru menyalahkan kepala pemerintah daerah itu. Ya macet pasti akan berlalu, badai saja bisa berlalu apalagi macet.

Penyebab Macet

Penyebab macet Jakarta yang pertama adalah karena orang sangat banyak di Jakarta. Anda setuju Jakarta banyak orang? Saya sangat setuju, dan bahkan saya bilang sama sanak keluarga saya di kampung untuk jangan ke sini. Percayalah Jakarta hanya kelihatannya saja berkilau, tempat Anda saat ini adalah tempat yang jauh lebih baik. Lalu kenapa saya tidak pindah dari Jakarta? Jawabannya adalah karena terlanjur. Jika kelak saya bisa, saya akan mengurangi beban Jakarta menampung saya meski saya cinta kota ini. Andai juga pendidikan, lapangan pekerjaan dan kecintaan terhadap tempat lahir tinggi maka silaunya lampu Jakarta takkan buat kami kaum urban terkesima. Saya akui ini adalah kewajiban pemerintah untuk segera memeratakan kesejahteraan.

Kedua, infrastruktur yang terlanjur amburadul. Banyak kesalahan pada jalan raya yang tertumpuk sejak dulu. Saya setiap hari menikmati jalan kota ini, dan memang saya akui berbagai jalan masih jauh disebut layak untuk kota dengan jumlah penduduk lebih dari 12,7 juta jiwa. Mereka semua setiap hari menggunakan jalan raya untuk kepentingan masing-masing, jelaslah Jakarta menjadi kota terkutuk pada jam tertentu. Meski jalan tol atau jalanan bebas hambatan ada di Jakarta, tapi Anda tau bagaimana keadaannya saat pagi atau petang. Parkir bebas. Menurut laman resmi koran Republika, kemacetan terparah akan terjadi tahun ini. Panjang jalan saat ini adalah sekitar 7.208 kilometer, namun kebutuhan jalan kita mencapai 12 ribu kilometer.

Ketiga, inti dari artikel ini adalah, angka macet bisa tambah parah jika Anda lebai. Semua orang itu mungkin takut kena debu, panas atau polusi sepertinya. Karenanya mereka memakai kendaraan pribadi beroda empat ke mana pun, padahal mereka seorang diri. Contohnya tetangga saya, keluarganya berjumlah lima orang dan masing-masing punya kendaraan pribadi beroda empat itu. Ayahnya buat ke kantor, maklum pejabat teras; ibunya buat arisan dan ke salon; anak-anaknya ke sekolah dan kuliah. Keluarga lainnya, memiliki tiga anggota keluarga justru punya lima mobil, yang salah satunya adalah mobil besar. Mobil yang saya tak perlu sebutkan mereknya karena yang pasti hanya orang kaya yang punya. Besar nyaris seperti minibus tapi yang naik satu orang. Bisanya pake sepatu hak tinggi dan rok mini. Saya kira andai kata dia pakai baju sedikit panjang, pasti dia tak kena debu, dan bisa naik angkutan umum.

Anda pasti pernah mengamati, bagaimana kota ini dipenuhi orang yang baru saja merasa kaya, sudah punya gaji empat juta saja akan kredit mobil. Biar dibilang mapan, di mata mertua kece dan bisa jalan-jalan keliling Jakarta. Lo lebai, bener deh.

Menurut data Dinas Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga tahun 2012 saja mencapai 13.347.802 unit. Dengan jumlah mobil 2,54 juta unit sisanya kendaraan bermotor dan truk. Bisa dibayangkan beban kota tercinta kita tahun 2014. Andai saja Anda tidak lebai, percayalah yang berlebihan tak akan baik.

Gaya kalau selfie di belakang setir

Sebagian orang yang saya temui mengatakan memakai mobil karena merasa lebih percaya diri. Alias demi gengsi. Ya ampun miris. Setelah punya gaji di atas upah minimum rata-rata padahal masih makan sama orang tua, mereka akan ambil mobil kredit. Entah punya surat izin mengemudi atau tidak, pokoknya beli sajalah dulu. Foto deh di belakang setir mobil, dan ritual terakhir mengunggahnya di jejaring sosial. Dengan caption, “Sambil nunggu macet” atau “Bete macet selfie dulu”. Hellowwwww menurut lo, lo ga kontribusi apa sama macetnya itu? Kalau mau sewot sih komen gitu. Tapi tidak ya sebagai warga yang berbudaya kita buat artikel sajalah. Semoga mereka sadar. Amin.

Cita-cita tidak macet bisa terlaksana

Beberapa waktu lalu kita melaksanakan pesta demokrasi, salah satu calon presiden ada yang tidak terima dengan keputusan. Tak butuh waktu lama, Jakarta langsung lengang, tidak macet karena pidatonya di salah satu stasiun televisi swasta. Hebat sekali, tidak macet setengah hari itu, karena semua orang lari tunggang langgang. Apakah itu baik? Saya rasa tidak, pasalnya keadaannya mencekam. Kita inginkan Jakarta tidak macet dengan cara yang sehat, kan? Cita-cita itu bisa terlaksana apabila kita menyadari banyak hal tentang jangan lebai pakai kendaraan. Salah satunya kita bisa menggunakan motor jika kita berprofesi yang membutuhkan ketepatan waktu signifikan. Misalkan seorang wartawan atau dokter. Jika memang kita terbiasa dengan jadwal rutin, alangkah baiknya kita menggunakan fasilitas umum, seperti kereta listrik dan Transjakarta. Meski belum senyaman mobil pribadi tapi pemerintah sudah berupaya untuk terus memperbaikinya.

Gaung tol laut sendiri sudah nyaring berbunyi sejak Pak Jokowi naik ke singgasana gubernur dua tahun silam. Katanya sih akan segera dilaksanakan peroyek mahabesar ini, arsiteknya sendiri dari berbagai belahan dunia. Dana yang dikeluarkan oleh pemerintah sebesar Rp60 triliun untuk seluruh tol laut. Dana ini dikatakan oleh presiden bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tidak akan mengorbankan dana lainnya. Namun, dengan menaikkan dana infrastruktur yang awalnya sebesar lima persen menjadi 10 persen. Apakah kita benar-benar butuh tol laut? Polemik sendiri mulai terjadi di kalangan pengamat dan masyarakat. Rudy P. Tambunan, seorang pengamat perkembangan perkotaan bahkan tak serta merta menyetujui proyek Giant Sea Wall ini. Menurutnya Indonesia bisa melakukan penguraian kemacetan dengan cara lain. Terlebih dengan bantuan dan campur tangan asing yang lebih banyak akan membuat Indonesia lebih bergantung pada pihak asing. Rudy mengakui bahwa pemuda Indonesia suatu hari akan mampu, tanpa harus banyak mengusung tenaga asing. Sayangnya, pendapat demi pendapat ini tertolak, proyek ini sudah akan diresmikan bulan depan.

Sebetulnya kita tak perlu seserius itu dalam mikirin negara, tapi kita perlu tau apa dan bagaimana supaya kita tidak lebai. Ayo bantu bangsa ini mentas dari kesemrawutan dengan sedikit kesadaran kita. Percayalah, kita dilahirkan untuk sebuah alasan. Perilaku kita akan berdampak pada orang lain, terkait satu sama lain. Jadi marilah menjaga perilaku kita dari hal yang paling kecil. Saat ini dan mulai dari diri sendiri. Oke, intinya jangan lebai memenuhi Jakarta ini dengan ego Anda memakai mobil seorang diri demi gengsi. Makin banyak orang lebai maka makin macet kota kita tercinta ini.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Elvi R. Adawiyah

Menulislah maka kau ada.
Find me

Latest posts by Elvi R. Adawiyah (see all)

(Visited 135 times, 1 visits today)

Elvi R. Adawiyah

Menulislah maka kau ada.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Obrolan Nggak Penting di Kondangan

Close