Ini Nasihat Kesehatan dari Dracula!

Beberapa pekan lalu gw nonton “Dracula Untold”, film vampir yang memiliki efek visual keren dan cerita yang… ehm lumayan deh. Setelah nonton itu gw jadi berpikir tentang nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada Dracula.

Sebelum membahas tokoh bertaring panjang ini lebih jauh, perlu diketahui bahwa Dracula adalah tokoh fiktif dari novel 1897, karya Bram Stoker. Banyak orang, termasuk gw, yang bertanya-tanya beda Dracula dan vampir. Dari pencarian yang gw lakukan, akhirnya gw nemu satu penjelasan yang cukup mumpuni. Vampir itu adalah pengisap darah. Sedangkan Dracula atau yang bernama lengkap Count Dracula adalah seorang penguasa feodal Transylvania. Dalam novel Stoker, tokoh Dracula ini diceritakan juga gemar mengisap darah dan sangat sadis. Oleh karena itu, Bram Stoker menyebut “Count Dracula the chief of vampires.” Makanya Dracula selalu ditulis dengan huruf kapital karena itu adalah nama orang. Jadi udah tau kan sekarang beda vampir dan Dracula?

Nah, kembali ke topik awal kita. Gw selalu percaya ada nilai luhur yang diciptakan dari mitos, dongeng, lagu atau karya seni apa pun yang diteruskan turun temurun. Lagu Si Kancil Anak Nakal, contohnya, mengajarkan kita untuk tidak mencuri. Jika mencuri kita akan dikurung dan tidak akan diberi ampun. Ngeri, ya?

Karena segmentasinya anak-anak, pesan itu tersirat jelas dari lirik lagunya. Sedangkan Dracula mempunyai subliminal message di dalam penggambarannya, yang membutuhkan lebih dari sekadar petunjuk kasatmata untuk dipahami. Salah satu pesan yang diusung adalah tentang kesehatan. Berikut beberapa pesan dari dr. Dracula yang berhasil gw terjemahkan untuk kalian.

Isap darah

Gw gak menyarankan untuk mengisap darah orang di sebelah lo dengan leher yang luar biasa menggoda. Tapi gw menyarankan lo untuk diisap darahnya atau bahasa sekarang mendonorkan darah. Dracula tahu itu, makanya sebenarnya tujuannya mulia. Mendonorkan darah itu bisa menggantikan sel darah merah yang lama dengan yang baru. Itu juga bisa mengurangi kadar zat besi dalam darah karena jika zat itu berlebihan bisa menyebabkan oksidasi kolesterol, yang mengendap di arteri. Akibatnya lo bakal rentan terkena penyakit jantung dan stroke.

Belum lagi menyumbangkan darah bisa mendeteksi penyakit serius, misalnya, HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan malaria. Sebelum mendonor pasti kesehatan darah kita diperiksa, kan? Nah, dari situ bisa diketahui apakah kita punya penyakit atau gak. Masih anggep Dracula jahat? Tega. Malah mungkin Palang Merah terinspirasi oleh Dracula lho.

Jangan kena matahari

Dracula antisinar matahari. Bukan karena dia ganjen kayak mbak-mbak yang takut item tapi karena dia bisa mati. Di “Dracula Untold” penderitaan itu divisualisasikan dengan efek kulit yang mengelupas ketika terpapar sinar matahari. Jika bicara tentang relevansinya di dunia nyata, Dracula punya alasan yang tepat untuk menghindari sinar matahari. Matahari memang merupakan sumber kehidupan tapi ia bisa juga menjadi berbahaya. E.coli – bakteri yang bisa bikin sakit perut – berkembang subur di atas daging yang belum matang, salad dan kudapan lain yang terbuat dari telur yang terjemur di bawah matahari.

Selain itu sinar matahari juga dapat menyebabkan luka bakar, penuaan dini dan keriput. Sementara sinar UVA, UVB, dan UVC dapat menyebabkan kanker kulit karsinoma dan melanoma serta katarak hingga kebutaan. Sekarang tahu kan kenapa Dracula anti banget sama matahari? Itu semua dilakukan demi kesehatan perut, kulit dan matanya.

Awas kena tembak peluru perak

Ini anjuran kesehatan paling samar dari dr. Dracula. Gw gak tau bahaya peluru perak. Kalo peluru emas baru bahaya, liat aja Pitung. Tapi akhirnya setelah beberapa pencarian fakta dengan metode cocoklogi gw bisa menyimpulkan bahwa perak di sini bukan semata-mata perak (Argentum/Ag) melainkan merkuri atau raksa (Hydrargyrum/Hg). Gw bisa bilang begitu karena warna merkuri itu perak (silver). Lagi pula setahu gw perak tidak menimbulkan efek kesehatan yang buruk bagi manusia. Lain halnya dengan merkuri yang terkenal berakibat fatal untuk kesehatan manusia. Pasti lo udah sering denger kan kosmetik mengandung merkuri jika dipakai terus akan merusak wajah bahkan kanker?

Penderita sindrom Minamata
Penderita sindrom Minamata

Selain itu, untuk orang Jakarta, kerang-kerang ijo yang lo makan itu biasanya berasal dari Teluk Jakarta yang mengandung logam berat, salah satunya merkuri. Itu bisa mengakibatkan kanker jika dikonsumsi dalam waktu yang lama.

Ada juga contoh kasus terkenal di dunia yang disebut Sindrom Minamata. Minamata itu adalah kota di prefektur Kumamoto, Jepang. Penyakit ini ditemukan pada 1956, disebabkan karena pembuangan limbah metil merkuri di perusahaan kimia Chisso Corporation, yang beroperasi dari 1932-1968. Gejala penyakit ini antara lain kesemutan, lemas, penyempitan sudut pandang, penurunan kemampuan ngomong dan denger. Pada stadium parah penderitanya bisa lumpuh, gila, koma, dan akhirnya mati. Gila kan efek merkuri yang berwarna perak ini? Gak heran Dracula aja takut.

Terlepas dari benar atau gaknya Dracula mencoba menyebarkan subliminal message tentang kesehatan kepada kita, seenggaknya kita bisa belajar lebih mengerti kesehatan bahkan dari tokoh jahat sekalipun. Dan yang paling penting, terlepas dari nama dan isi situs ini yang remeh temeh, tulisan ini diambil dari berbagai sumber terpercaya. Iya ini bukan dari pendapat gw sendiri, I’m not a doctor anyway, I’m just a vampire.BatsFlyingIn-1

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 78 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Korelasi Sifat Lebai dan Macet di Jakarta

Close