Fenomena Kurbanisasi, Mitos Islami yang Tak Terelakkan

Baru-baru ini, saya melaksanakan kurban di lingkungan rumah. Tapi, berbeda dengan kebanyakan umat Islam lainnya, saya tidak berkurban domba maupun sapi. Saya hanya mengurbankan sedikit bagian harta yang saya dapat untuk berbagi dengan orang-orang sekeliling saya.

Saat salah satu tetangga saya bertanya, “Neng, ini dalam rangka apa?”

Saya pun menjawab, “Insyaallah kurban.”

Sontak semua yang hadir di sana mengernyitkan dahinya. Sang tetangga pun kemudian menjawab seolah mengklarifikasi, “Bukan kurban mungkin, sedekah.”

Berdasarkan kejadian tersebut, saya melihat bahwa ada persepsi yang berbeda antara kurban yang saya tafsirkan dengan kurban yang selama ini melekat sebagai mitos islami. Sesuai dengan apa yang saya pelajari, kurban berasal dari kata qurban (Arab) dan karov (Ibrani) yang artinya ‘pendekatan atau mendekat (kepada Allah)’.

Dalam Bahasa Indonesia sendiri, kurban diartikan sebagai suatu praktik yang biasanya dilakukan oleh berbagai pemeluk agama sebagai tanda kesediaan pemeluknya untuk menyerahkan sesuatu kepada Tuhannya.

Jadi, sudah jelas bahwa praktik kurban yang ditemukan pada zaman sekarang ini tidak lebih dari sekadar penjabaran dangkal mengenai mitos-mitos dan legenda yang ada pada zaman dulu, yakni ketika banyak orang yang menyembelih hewan atau manusia sebagai sesembahan kepada Yang Dipuja.

Qurban_in_Pekanbaru_(1)Jika kurban pada zaman yang serba modern ini masih dianggap sebagai praktik penyembelihan hewan, maka apa jadinya jika para penerima kurban ternyata hanya mendapatkan jatah kurban berupa daging tanpa bisa mengonsumsinya karena ketidakmapanan mereka akan kebutuhan primer lainnya? Bukankah kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang masih banyak yang memilih untuk diberi nasi dan lauk pauk dibandingkan hanya sebongkah daging? Atau bisa juga daging yang sudah diperoleh tersebut dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang di pasar sehingga mereka bisa membeli sekilo beras dan bumbu masakan saja.

Tapi, saya berpikir lain. Saya memilih untuk mendekatkan diri dengan cara yang lain sebab kurban adalah pendekatan, bukan penyembelihan. Bahkan jika ada di antara masyarakat Indonesia yang tidak memiliki harta tapi memiliki banyak ilmu, bukankah pengamalan ilmunya itu sudah termasuk pada praktik kurban?

Dalam hal ini, saya melihat adanya fenomena kurbanisasi yang menjerat umat Islam agar mempertahankan hewan sembelihan sebagai sebuah ibadah dibandingkan dengan meningkatkan nilai moral dan spiritual mereka untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Bukankah sekarang ini banyak sekali pesohor yang mengurbankan banyak hewan namun tetap berdusta di hadapan publik? Bukankah saat ini banyak sekali para pejabat yang mengurbankan berekor-ekor sapi demi kemaslahatan bersama, namun melakukan tindakan korupsi setelahnya? Hal itu saya lihat sebagai bukti bahwa penyembelihan hewan bukan satu-satunya jalan untuk melakukan praktik kurban, apalagi meningkatkan spiritualitas.

Bagi saya, fenomena kurbanisasi ini sudah mirip-mirip dengan fenomena urbanisasi. Jika urbanisasi membuat masyarakat desa ingin beranjak ke kota karena melihat kesempatan untuk bermewah-mewah, maka kurbaniasi seolah mengajak masyarakat untuk beranjak dari pendekatan menjadi penyembelihan.

Masyarakat Islam di Indonesia ini kebanyakan rela mengorbankan banyak hal demi membeli dan menerima seekor hewan sembelihan. Bahkan tidak jarang saya mendengar ada orang berkurban meminta jatah kurbannya sendiri. Apakah ini tindakan yang masuk akal jika kurban diartikan sebagai ‘pendekatan’?

Apa mungkin seorang laki-laki memberi hadiah pada perempuan yang dicintainya, lalu meminta kembali jatah hadiah yang sudah diberikannya? Inilah yang saat ini terjadi pada mayoritas umat Islam di Indonesia.

Mungkin sudah saatnya cendekiawan Islam mulai mengurbankan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan wawasannya kepada sesama muslim agar tidak terjerat pada fenomena kurbanisasi atau mitos Islami lainnya. Apalagi sampai mengurbankan perasaan rakyat kecil demi sebuah gengsi “pejabat tidak kurban sapi”.

Stay updated! Follow us on:

Zukhrufah DA
Find me

Zukhrufah DA

Life blogger. Social media. Content writer. Have genius-idiot brain. Do something that briliant, but in other time will make you laugh with idiot thing.
Zukhrufah DA
Find me

Latest posts by Zukhrufah DA (see all)

(Visited 108 times, 1 visits today)

Zukhrufah DA

Life blogger. Social media. Content writer. Have genius-idiot brain. Do something that briliant, but in other time will make you laugh with idiot thing.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Pemuda dan Sejarah Kebangkitan Bangsa

Close