Di Mana Passion Berada? (Tunjuk Dada)

Passion, sebuah kata sederhana yang membuat saya uring-uringan beberapa tahun lalu. Saya merasa telah berada di jalan benar tapi mendengar sebuah kata baru ini membuat saya berpikir ulang. Apakah saya benar? Apa ini ingin saya? Ini cinta dan jalan hidup saya? Ini diri saya? Atau sekadar menyenangkan orang lain (ayah dan ibu)? Lalu saya mulai mencari fakta-fakta dan menciptakan interpretasi saya terhadap kata itu.

Bahasa kerennya sih kata orang-orang barat passion, saya kasih judul itu bukan karena saya suka sekali bahasa bule. Namun, saya berharap mesin pencarian Google bisa mudah mempertemukan orang galau passion macam saya (dulu) dengan kata ini.

Passion menurut terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah gairah. Nah lho gairah macam apa? Apa sama seperti nafsu terhadap lawan jenis atau nafsu makan. Maka kalau kita terjemahkan secara terbuka passion kita pasti akan menjadi banyak. Passion makan, tidur, atau mungkin sekadar hal yang kita jalani sehari-hari. Nyatanya tak semudah itu menentukan sebuah “gairah”, lantas apakah jika belum menemukan gairah hidup, manusia akan segera mengakhiri hidup mereka? Untungnya manusia adalah makhluk Tuhan paling menakjubkan (bukan cuma makhluk paling seksi), yang selalu mencari dan berpikir.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia sendiri,  “Gairah” berarti keinginan hati (akan kehormatan) atau cinta, gembira atau kegembiraan. Makanya apa pun yang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna bisa kita kategorikan gairah. Lalu apakah passion semudah itu menggembirakan kita? Nyatanya sangat fluktuatif bahagia itu.

Passion juga disebut panggilan jiwa, bagi sebagian orang, mereka akan merasa terpanggil dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Mungkin saya lumayan setuju dengan definisi ini, tapi panggilan jiwa ini lebih absurd dari yang saya kira. Kapan kita dipanggil jiwa? Lah kenalan di mana sama jiwa? Jiwa itu anaknya siapa? Lalu saya putuskan melihat ke dalam akar masalah diri saya.

Oh ya, saya ingat saat sekolah menengah pertama (SMP). Dulu saya pernah dapat mata pelajaran bimbingan konseling dari si ibu centil. Entah kenapa masa SMP, saya rasa adalah penyumbang terbesar siapa diri saya saat ini. Semua begitu terasa melekat. Ternyata baru saya sadar saat ini, saya mencari passion bahkan sejak saat itu. Di mana saya sangat menyukai cinta pertama saya, guru biologi saya, dan di mana saya berfalsafah.

Awal mulanya saat itu, iya saya kini yakin, saat saya ingin tau siapa saya. Mau apa saya. Mau ke mana saya. Namun, delapan tahun kemudian saya baru tau siapa saya. Saya mendapat panggilan jiwa itu. Kalau di antara kita masih belum tau atau mungkin lupa, jangan sedih, beda jalan beda tikungan. Mungkin Anda belum menikung, Tuhan tidak akan lupa membuat Anda menikung. Jadi jangan sedih nanti pasti tiba giliran Anda.

Kalau saya sendiri bertemu dengan passion ketika saya berkumpul dengan rekan-rekan jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri Islam di Jakarta. Awalnya saya meyakini saya adalah calon seorang guru, karena saya menyukai guru biologi saya sejak SMP, dan menyukai jalan-jalan alam, lantas saya mengambil pendidikan ilmu biologi. Saya mulai merasa akan menjadi seorang guru dengan latihan mengajar dan setiap hari mengasah itu. Tapi lama kelamaan saya merasakan hal aneh. Ternyata, berhasil dan bahagia saja tidak cukup. Mulai terjadi pergolakan batin (cie elah), sampai saya mau lulus masih saja bingung. Akhirnya saya lulus kuliah dan belum tau passion saya apa. Galau berkepanjangan melanda saya. Sebulan penuh hati dan jiwa galau (ciee lebay).

Dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak hanya membahagiakan orang lain. Tapi membahagiakan diri saya sendiri dan memancarkannya.

Suatu malam dalam wangsit tiba-tiba, saya ingat betapa saya ternyata menyukai acara televisi Dunia dalam Berita, Majalah Bobo, Koran Republika, Kompas dan mengamati Tempo. Ya tiba-tiba, tanpa ada yang memberitahu saya, saya tau, saya bertemu dengannya. Seorang berkata “Seperti saat jatuh cinta, tidak ada yang memberitahunya pada kita, tapi kita tau bahwa kita jatuh cinta”.  Sejak saya ingat saya jatuh cinta pada berita itu, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi jurnalis dan akan tetap menjadi jurnalis. Mengabdikan diri untuk berkontribusi pada dunia, untuk menjadi jurnalis (halah idealis). Tapi itu faktanya.

Datang pertanyaan

Nah, kemarin datang pertanyaan kecil dari seorang anak murid saya, dia tanya, “Kakak passion aku apa ya?”, mahasiswi berkacamata nan gendut itu tiba-tiba bekata. Hal itu sepertinya mengusiknya dan mengusik saya kembali. Namun, saya sangat bersyukur karena saat ini saya sudah menemukan passion saya dan ingin sedikit berceloteh. Tulisan ini dedikasikan, salah satunya, untuk si gendut berkacamata (Efry Syafira).

Tak kenal maka tak sayang

Saat itu saya rasa awal bagaimana kita bisa bertemu dan bersama dengan passion kita harus berkenalan dengannya. Karena passion adanya di dalam jiwa dan diri kita masing-masing, maka kita wajib berkenalan dulu dengan diri kita. Ya, jiwa kita. Kok kesannya galau ya? Tapi memang itu hal terpenting yang harus kita lakukan. Tak sekadar tau nama, alamat rumah dan lainnya, karena anak taman kanak-kanak juga bisa mengingat itu.Renungkanlah, 5 W 1 H – seperti karangan – tapi itu sangat ampuh. Jika sudah maka Anda akan lumayan dapat pencerahan.

Untitled-1Cobalah satu persatu melakukan hal-hal positif dan rasakan, kenali apakah itu membuat Anda bahagia. Saya yakin passion manusia adalah tentang kebaikan dan tidak ada manusia yang suka akan peperangan. Mereka akan cenderung menyukai segala kedamaian, sebab mereka akan pulang dengan damai. Oleh sebab itu, nongkrong tidak jelas di bawah tiang listrik sambil terus ngelamun, pakai narkoba atau tawuran bukan hal yang bisa mempertemukan Anda pada panggilan jiwa. Saya yakin bahwa tak ada passion orang untuk perang, mengonsumsi narkoba atau jadi pengangguran. Justru mereka terjebak pada dunia yang tak mempertemukan mereka dengan si passion itu. Hidupnya galau tidak terarah, maka mulai sekarang setelah termenung Anda harus segera menjalani hal-hal positif untuk bertemu si passion. Bahagia saja tak cukup

Benar, bahagia saja tidak cukup, karena bahagia sangat fluktuatif, dia akan turun naik dan bisa saja hilang. Alexander Sriewijono, psikolog dan pendiri Daily Meaning mengatakan bahwa salah satu indikator Anda bertemu dengan passion adalah ketika Anda tak sekadar bahagia tapi juga bersinar. Semua tidak hanya tentang diri Anda tapi juga tentang orang lain di sekitar Anda. Mereka juga akan merasakan apa yang Anda rasakan, mereka akan menjadi bahagia untuk Anda. Semua karena pancaran passion.

Menemukan passion bukan berarti ketika Anda merasakan semua keinginan dapat terpenuhi sekejap mata. Bukan! Bisa jadi itu melalui perjuangan keras dan membutuhkan tidak sedikit waktu. Menguras air mata, tenaga dan luas wilayah di muka bumi ini atau di muka internet (bagi sebagian orang yang suka googling).

Jika sudah mengenali diri, merenung, melakukan hal positif tapi belum juga menemukan passion, Anda harus segera mencari kawan yang menginspirasi, berkenalan dengan orang-orang yang bertemu dengan passion. Bertukar cerita dengan orang baru tak jadi masalah, mungkin akan menimbulkan percikan di hati. Cobalah berjalan-jalan keluar dari zona nyaman Anda saat ini. Temukan hal Anda ingin lakukan saat kecil, segera lakukan dan coba Anda rasakan. Sebaiknya Anda melakukan ini sendiri saja, kadang bersama seorang akan merepotkan. Di sini Anda akan butuh banyak dialog dengan jiwa. Pergilah relaksasi, jalan-jalan dan berkenalanlah dengan banyak orang.

Tak harus memaksakan diri

Keluar dari zona nyaman, bukan berarti Anda harus ngoyo dan sangat memaksakan diri. Anda cukup berusaha, berdoa dan sehat jasmani rohani. Pasti Tuhan akan berikan jalan. Bukan berarti Anda yang suntuk bekerja dan selalu gagal tidak menemukan passion Anda. Passion tak semata-mata terkait dengan pekerjaan. Passion terkait dedikasi dan pancaran semangat hidup Anda. Bisa saja passion Anda mendukung pekerjaan. Misalkan passion Anda adalah menulis dan pekerjaan Anda adalah teknisi komputer. Jika memang menulis itu membuat Anda bisa melepaskan lelah dan memercikan gairah lakukanlah. Pasti selepas itu, Anda akan lebih baik lagi memperbaiki komputer, berarti salah satu passion dan pekerjaan Anda tetap dalam satu hal yang saling terkait dan membantu. Jangan memaksakan diri untuk bersamanya setiap saat tapi temukan dia untuk membuat hidup Anda lebih berarti.

Baiklah itu sekelumit tentang passion, bagi saya berbagi lewat kata adalah salah satu panggilan jiwa saya. Dan karena sempurna milik Tuhan dan Andra n The Backbone, maka saya akan terima kritik dan sarannya di kolom komentar di bawah.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Elvi R. Adawiyah

Menulislah maka kau ada.
Find me

Latest posts by Elvi R. Adawiyah (see all)

(Visited 49 times, 1 visits today)

Elvi R. Adawiyah

Menulislah maka kau ada.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
AADB: Ada Apa dengan Bekasi?

Close