Belajar Berdemo dari Hong Kong

Demonstrasi, pergerakan, revolusi, atau apa pun sebutannya adalah hal yang sangat wajar dan lumrah dalam sejarah suatu negara. Di Indonesia sendiri nggak cuma sekali dua kali kok hal ini terjadi, bahkan pada puncaknya suatu demontrasi yang berujung pada kerusuhan dan tragedi nasional pada 1998 dapat menggulingkan pemerintahan yang sudah berakar selama puluhan tahun. Hebat.

Sayangnya demonstrasi selalu dikaitkan dengan aksi masa yang anarkistis dan brutal, ngerusak fasilitas umum bahkan menimbulkan kekacauan dengan berantem sendiri padahal nggak jelas masalahnya apa. Menyedihkan. Walaupun kadang demo sendiri dilakukan dengan embel-embel aksi damai, tetap saja akan banyak akibat yang nggak enak buat yang nggak ikut demo kayak macet, sampah dan rusaknya fasilitas umum (nggak tahu disengaja atau nggak).

Tapi dua jempol bahkan empat jempol (ngasih jempolnya sambil duduk) buat pemrotes di Hong Kong. Somehow mereka tetap menjaga supaya nggak terlalu banyak menimbulkan kerusakan dan meminimalkan kerugian pihak lainnya yang nggak ikut berdemo bersama mereka.

Berikut hal-hal yang perlu kita contoh supaya demo yang kita lakukan nggak banyak merugikan pihak-pihak lainnya dan juga bisa mendapatkan respons positif.

Menjaga tanaman

Aiih..manis banget, tapi serius deh para pedemo di Hong Kong ini tetap menjaga keindahan tanaman di sekitar lokasi mereka dengan tidak menginjak-injak tanaman yang ada. Bahkan larangan menginjak tanaman itu mereka tuliskan di papan karton. Di War Memorial, tempat mereka berdemo, rumputnya tetap utuh tidak terinjak-injak meski jumlah mereka banyak.

Payung

Foto: Vincent Yu/Associated Press
Foto: Vincent Yu/Associated Press

Beda sama demo di Indonesia yang pedemo dan aparat keamanan bisa sibuk gontok-gontokan sendiri, di Hong Kong pendemo justru menggunakan payung untuk melindungi diri mereka dari tindakan agresif pihak keamanan dalam membubarkan mereka. Payung juga dijadikan simbol sama mereka, makanya gerakan mereka lalu disebut sebagai ‘Revolusi Payung’.

Tetap belajar

Ngerjain PR Foto: Richard Frost (@frostyhk)
Ngerjain PR
Foto: Richard Frost (@frostyhk)

Dengan pedemo yang sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa, mereka sadar kalau demo pasti akan makan waktu lama. Tapi kerennya para pengunjuk rasa ini masih tetap belajar, yah daripada gara-gara demo nilainya jeblok, kan nggak asik banget tuh.

Meminta maaf
Permintaan maaf terlebih ditujukan kepada sipil yang kenyamanannya jadi terganggu karena pemblokiran kereta dan fasilitas umum lainnya. Ini beda banget sama di sini yang spanduk-spanduk saat demo itu isinya cuma tuntutan dan cacian. Permainan yang cantik.

Nggak bikin sampah

Foto: Chris Stowers/McClatchy idahostatesman.com
Foto: Chris Stowers/McClatchy
idahostatesman.com

Jangankan demo, bahkan kalau ada konser pasti yang paling terasa sisanya adalah sampah. Siapa sih yang punya cukup waktu untuk ngumpulin atau bahkan sekadar buang sampah ke tempatnya supaya lokasi demo nggak jadi kotor? Ya para pedemo di Hong Kong ini. Benar-benar bikin salut!

Selain seperti yang sudah disebutkan di atas, hal yang nggak kalah pentingnya adalah demonstran ini tetap fokus pada permintaannya jadi mereka nggak gampang termakan isu lainnya yang bisa bikin demo berakhir kisruh dan kacau balau. Ini salah satu hal yang masih harus dipelajari sama pedemo Indonesia. Demo itu nggak cuma untuk menuntut permintaan kita tapi demi nama masyarakat luas pun pedemo juga harus menjaga ketertiban umum supaya nggak merugikan orang lain. Siapa yang setuju sama gw?

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 24 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Karakter-Karakter Film yang Terlalu Sempurna

Close