Fenomena Polisi Cantik di Televisi

Tren aparat negara cantik kayaknya lagi booming banget di Indonesia, dicetuskan dari acara informasi lalu lintas di salah satu televisi swasta yang menampilkan polwan-polwan cantik yang menjadi presenter untuk acara ini lalu menjadi pembicaraan di media sosial (terutama yang dibahas sih kecantikannya) hingga akhirnya seolah menjadi standar. Berawal dari satu program di satu televisi swasta sekarang semakin banyak televisi swasta yang memasang Polwan Presenter, sebutan untuk Polwan yang muncul di layar kaca untuk membawakan sebuah acara, bahkan salah satunya adalah untuk reality show tentang pelanggaran-pelanggaran lalu lintas.

Lurah Sadang Serang Bandung, Ratna Rahayu
Lurah Sadang Serang Bandung, Ratna Rahayu

Fenomena ini nggak cuma ada di lingkungan aparatur penegak hukum saja loh, soalnya baru-baru ini banyak muncul aparatur sipil negara yang jadi terkenal karena parasnya yang cantik jadi pembicaraan ramai di media sosial dan dia adalah seorang lurah. Kereen.

Nurul Habibah Dibandingkan Brigadir Eka Frestya
Satpol PP Nurul Habibah Dibandingkan Brigadir Eka Frestya

Nggak mau kalah terkenal sama lurah cantik, muncullah seorang Polisi Pamong Praja yang jadi terkenal karena foto selfie-nya yang diunggah ke Twitter ramai dibicarakan orang. Dia dibandingkan dengan si polwan cantik Eka Frestya yang udah terkenal duluan.

Seorang pengajar Program Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, mengungkapkan kalau tujuan kepolisian menampilkan anggotanya yang cantik dan tampan itu cuma buat pencitraan maka itu salah, soalnya yang paling benar untuk meningkatkan citra adalah dengan memperbaiki kinerja di tubuh POLRI sendiri.

Salah fokus

BvuvIDlIEAANEWH.jpg largeMenurut gw fokus terhadap fenomena ini seharusnya bukan cuma mengenai fisik yang cantik dan menarik saja, tapi juga tentang kinerja dan prestasi mereka. Kayak para polwan presenter itu contohnya, seharusnya yang menjadi sorotan adalah prestasi mereka di lapangan, keseharian mereka yang bekerja sebagai penegak hukum di Indonesia.

Fokusnya seharusnya adalah tentang apa saja pencapaian mereka sebagai penegak hukum. Coba lihat Brigadir Herlina Swandy dia salah satu polwan yang menurut gw prestasinya patut dibicarakan selain kecantikan fisiknya. Polwan mantan satuan reserse ini pernah menyamar sebagai korban human trafficking guna membongkar sindikat itu.

Standar baru

Jadi sekarang mau cari kandidat penegak hukum atau model? Lalu menyusul kemudian pertanyaan apakah menjadi polisi itu cukup hanya dengan cantik dan semampai? Paradigma seperti ini didukung juga dengan kenyataan bahwa bukan hanya otak brilian dan fisik sehat, pencarian kandidat-kandidat baru anggota penegak hukum kini tampaknya juga cenderung menitikberatkan pada perempuan dengan penampilan dan paras yang menarik. Apakah wanita cantik jadi salah satu produk garda terdepan untuk meningkatkan citra polisi? Jika benar begitu, kepolisian berhasil. Namun, juga sekaligus blunder. Dengan personel yang diposisikan bak selebritas, berapa banyak dari mereka yang akhirnya tergoda untuk menyeberang? Masih ingat Norman Kamaru? Dengan besarnya perhatian media dia jadi silau ketenaran dan tampak lupa pada jiwa korsa.

Ajang casting

Kalau dulu yang gw lihat polwan sosok wanita yang tegas sekarang justru nggak. Polwan yang gw lihat sekarang adalah sekumpulan perempuan berseragam yang menunggu untuk di-casting si pencari bakat, maaf kalau terkesan sinis. Soalnya yang gw lihat sekarang mereka hanya memperhatikan penampilan belaka. Dengan make-up tebal para polwan presenter itu diubah wajahnya menjadi cenderung serupa, kalau nggak mau dibilang mirip dan itu semua dilakukan dengan alasan yang kurang genah buat gw.

Menjaga tubuh untuk anggota aparat penegak hukum gw rasa itu adalah hal yang wajib, buktinya setiap Jumat mereka diwajibkan untuk ikut senam, olahraga, atau korve. Namun, tujuan semua itu adalah untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuh agar dipandang pas saat masuk kamera. Sayangnya demi dipandang cantik di layar kaca mereka diminta untuk menjalankan kegiatan yang bisa dibilang salah, lari siang di bawah matahari terik dengan menggunakan jaket sauna. Dan ironisnya hal itu justru diperintahkan kepada mereka. Mereka tahu nggak ya kalau berlari memakai pakaian tebal apalagi jaket nggak baik buat kesehatan?

Di balik semua di atas, memang masih banyak juga sih sisi baiknya yaitu membuat masyarakat jadi lebih suka menonton berita (mungkin loh ya) walaupun akan lebih baik untuk nggak semata menampilkan fisiknya saja tapi juga tetap fokus menjalankan prioritas utamanya sebagai pengabdi masyarakat.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 136 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Bullying, Tindakan Primitif yang Belum Punah

Close