Bau “Kentut Kosmopolitan”

Saat pertama kali masuk universitas, senior menugaskan para maba (mahasiswa baru) untuk membuat sebuah cerpen sebagai bentuk ‘ospek’ di jurusan Sastra Indonesia. Seminggu kemudian, cerpen saya yang berjudul “Aku, Khayalku, dan Mereka…” dinobatkan sebagai cerpen terbaik se-Indonesia (maksudnya se-sastra Indonesia dan kami biasa menyebutnya dengan sebutan anak Indonesia saja sebagai bentuk penghargaan pada majas totem pro parte yang telah kami pelajari sejak duduk di bangku sekolah menengah) dari maba yang berjumlah 53 orang penduduk (baca : mahasiswa).

Ketika dipanggil ke sebuah panggung berukuran dua kali tiga meter yang ada di ruang mabim (masa bimbingan) untuk menerima penghargaan tersebut, seorang senior mengemukakan alasan mengapa cerpen saya menjadi cerpen terbaik. Menurut para senior, cerpen saya mirip-mirip lah dengan cerpen Seno Gumira. Om Seno boleh segera kentut setelah mendengar atau membaca pernyataan ini.

Semenjak itu, saya merasa bangga meskipun mendapatkan penghargaan sebagai penulis cerpen terbaik dari 53 maba dengan hadiah berupa notebook yang pada saat itu masih berupa buku catatan bergambar yang di dalamnya kita tetap harus menulis font alamiah dengan salah satu pilihan font Ceker Ayam, namun kegirangan dikatakan mirip Seno Gumira itu menjadi salah satu motivasi yang membuat saya kemudian mencari-cari buku karangan Seno Gumira.

Buku berjudul “Saksi Mata” pun kemudian mulai membuat saya jatuh cinta pada Seno Gumira. Entah karena senior menyebut karya saya mirip-mirip dengan karyanya sehingga membuat saya menjadi penulis cerpen terbaik ‘se-Indonesia’, atau entah memang karena saya suka. Saya juga tidak begitu tahu. Mungkin begitulah rasanya jatuh cinta : tanpa sebab, tanpa alasan.

Berbagai buku karangan Seno Gumira kemudian menjadi salah satu jenis artefak yang membuat saya tidak pernah sekalipun melewatkan kata “Seno Gumira” setiap kali masuk ke toko buku. Tapi, tiap kali saya bertanya “Ada buku karya Seno Gumira, enggak?” saya selalu mendapatkan kalimat “bukunya habis.” atau “bukunya kosong”. Sampai akhirnya, saya rela menjadi pengemis yang harus mengiba kepada para teman yang tidak jatuh cinta padanya untuk membuat buku karya Seno Gumira milik mereka jadi milik saya; atau bahkan menjadi pencuri untuk bisa mendapatkan artefak tersebut dan memajangnya dengan bangga di rak buku saya.

Kebetulan, pada saat menjadi pencuri, saya sedang ngefans dengan kata “antikapitalisme” sehingga mencuri buku di toko-toko besar seolah bukan sebuah dosa bagi saya. Lantas memajang buku curian seolah-olah membuat aura saya berubah menjadi ‘superhero’ yang sedikitnya bisa mengotori ranah kapitalisme dan membuat sebagian orang yang ngefans sama saya jadi benci dengan istilah tersebut.

Bertahun-tahun saya menjadi pengemis dan pencuri hingga akhirnya pada tahun 2012, saya pensiun dan memilih untuk membeli buku “Nagabumi” setelah beberapa buku karangan Seno Gumira yang lain berhasil dibina di rak buku saya sebagai curian yang tidak boleh kembali atau hibah paksa yang tidak usah jadi dosa. Kecintaan saya terhadap Seno Gumira semakin menjadi ketika saya mencium bau kentut-nya di sebuah toko buku mini Selasar Bahasa yang dibina oleh entah-kawan-entah-guru yang saya panggil Kang Ahda.

Sebuah buku berjudul “Kentut Kosmopolitan” pun berhasil saya beli dengan sedikit diskon dari empunya toko buku. Setelah mencium bau kentutnyalah maka saya memberanikan diri untuk mengungkapkan kegalauan saya karena ternyata banyak sekali kentut yang bertebaran di dunia ini yang baunya sampai ke hidung saya, telinga saya, mata saya, hati saya, juga pikiran saya. Bau Kentut Kosmopolitan kemudian sampai kepada Kota Bandung yang kelak (bahkan sudah) mungkin akan ikut-ikutan menjadi Kosmopolitan.

Sejak kecil, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk menahan kentut saat berhadapan dengan orang lain. Saya pun menurut karena kata ibu, “dalam sekolah kepribadian, seseorang diajarkan untuk menahan kentut selagi berhadapan dengan orang lain karena kentut sebagian dari aib.” Mitos itulah yang kemudian membuat saya harus berhenti latihan tae kwon do setelah mengeluarkan bunyi ‘pret’ saat sedang melakukan satu jurus tendangan yang diajarkan oleh sabum. Hal itu membuat saya terpukul dan menganggap bahwa saya bukan lagi orang beriman karena telah menimang aib di hadapan teman-teman. Semenjak itu, saya akan menahan kentut atau izin keluar ruangan jika ingin kentut saat berhadapan dengan orang lain.

Sejak saat itu pula, kentut serupa aurat untuk saya karena jika aurat tersingkap, rasa malu pun akan mengebiri hati dan pikiran saya sehingga rasa-rasanya saya sudah tidak beriman lagi jika ketahuan kentut di hadapan orang. Kentut yang tadinya kotoran tubuh berupa gas karbondioksida, hidrogen sulfida, dan merkaptan kemudian bermetamorfosis menjadi aib di kepala ibu saya, lantas bermetamorfosis lagi menjadi aurat bagi saya sehingga kentut bukan lagi sebagian dari aib, melainkan sebagian dari iman.

Seno Gumira bertanya kepada pembaca “bagaimana caranya Anda menahan kentut?” Lantas saya jawab, “dengan manajemen kentut”. Jika sekolah kepribadian mengajarkan seseorang untuk menahan kentut agar bisa mendapatkan predikat sebagai ‘seseorang dengan berkepribadian yang baik’, maka saya akan menawarkan manajemen kentut agar jumlah pemasukan dan pengeluaran dalam tubuh bisa seimbang sehingga siapa saja bisa membuat sebuah perencanaan kentut dengan pemasukan dan pengeluaran yang sudah ditargetkan dalam perencanaan tersebut dan tentu saja membuat kita tetap dalam keadaan sehat. Manajemen kentut akan membuat kita tahu kapan dan di mana senyawa-senyawa tersebut akan dikeluarkan sehingga tidak akan ada orang yang tahu bau dan bunyi kentut kita.

Dalam manajemen kentut, diperlukan pula pendidikan dasar mengenai hakikat manajemen kentut sehingga kita bisa mengetahui bahwa kentut yang baunya busuk tidak hanya mengindikasi adanya kelebihan makanan, efek samping penggunaan obat-obatan, serta konstipasi dan masuk angin; tapi juga memperlihatkan perilaku si empunya kentut apakah orang yang suka berbuat zalim atau tidak karena walau bagaimana pun, kentut juga punya andil dalam menzalimi hidung dan imajinasi orang lain yang mencium bau atau mendengar bunyinya.

Manejemen kentut juga dilakukan bukan supaya tidak ada orang yang mengetahui indikasi-indikasi tersebut sebab kentut yang baunya busuk justru jarang sekali mengeluarkan bunyi sehingga akan terjadi ‘tuduh-menuduh’ antara orang-yang-kentut-tidak-ingin-ketahuan dengan orang-yang-tidak-kentut-tidak-ingin-difitnah. Hal itu tentu akan menyulitkan orang yang terzalimi karena bau kentut tidak hanya membuat si empunya kentut menjadi sehat, tapi membuat yang sedang makan jadi tidak nafsu makan, jadi ingin muntah, bahkan membayangkan proses selanjutnya dari kegiatan peristaltik yang bukan hanya menghasilkan angin, tapi juga bongkahan kotoran.

Hakikat manajemen kentut bukan untuk membuat orang lain terzalimi sementara si empunya kentut tetap bisa tersenyum karena tidak ada yang tahu kentut itu keluar dari siapa. Oleh sebab itu, siapa saja yang sudah menguasai ilmu manajemen kentut seyogianya tetap melakukan pengeluaran pada waktu dan ruangan yang tepat, jangan sampai karena sudah piawai, lantas kentut di mana saja asal tidak ketahuan.

Setelah menguasai manajemen kentut, diharapkan manusia Indonesia bisa melakukan manajemen dalam bidang yang mirip-miriplah dengan kentut (ada pemasukan, ada pengeluaran). Sebagai contoh, para politisi (politisi dalam segala bidang) diharapkan bisa menahan tindakan korupsi seperti halnya mereka menahan kentut. Diharapakan pula mereka bisa melakukan ‘pemasukan dan pengeluaran’ dana milik negara sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dalam APBN sehingga tidak terjadi trauma seperti yang saya rasakan ketika harus ketahuan mengeluarkan bunyi ‘pret’ saat sedang berlatih tae kwon do; atau tidak muncul rakyat-rakyat kecil terzalimi yang harus mencium bau kentut tanpa tahu siapa yang kentut itu sebenarnya.

Selain menawarkan keseimbangan dan kesehatan tubuh karena sistem pemasukan dan pengeluaran yang seimbang, manajemen kentut juga tetap memelihara agar aurat Anda tidak tersingkap sehingga Anda tetap menjadi orang yang beriman dan berkepribadian baik, bukan?

1238723_175927709259005_1414611033_n

 

”Kentut Kosmopolitan”

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Penerbit: Koekoesan, Agustus 2008

 

 

 

 

 

Jatinangor, September 2013

Stay updated! Follow us on:

Zukhrufah DA
Find me

Zukhrufah DA

Life blogger. Social media. Content writer. Have genius-idiot brain. Do something that briliant, but in other time will make you laugh with idiot thing.
Zukhrufah DA
Find me

Latest posts by Zukhrufah DA (see all)

(Visited 100 times, 1 visits today)

Zukhrufah DA

Life blogger. Social media. Content writer. Have genius-idiot brain. Do something that briliant, but in other time will make you laugh with idiot thing.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Hal-Hal Absurd yang Terjadi di Kolam Renang

Close