Apa yang Diajarkan Florence pada Kita?

Ah, mungkin telat kalau mau bahas tentang Florence Sihombing sekarang, soalnya kasusnya juga sudah nggak terlalu berasap lagi, Flo sudah meminta maaf kepada semua pihak bahkan kabarnya polisi sudah menangkap Flo terkait kasus ini. Namun, tetap nggak ada salahnya untuk sedikit belajar dari kasus ini dan beberapa kasus serupa lainnya, seperti kasus Dinda yang marah-marah di kereta.

Seperti tulisan di remehtemeh.com sebelumnya, Tiga Dosa Terbesar di Socmed, gw rasa ini bisa dimasukin jadi dosa yang keempat, karena menurut gw terlalu banyak orang yang melakukan hal itu sampai batas wajar jadi sedikit kabur.

Kalau dulu zaman SD, SMP, dan SMA kita dapat pelajaran tentang adab berbicara di muka umum mungkin pelajaran serupa penting banget di zaman serba teknologi ini. Sebut saja sebagai pelajaran adab mem-posting apa pun di socmed.

Sebenarnya nggak jauh beda sama dunia nyata di dunia maya kita tetap harus punya tata krama karena apa yang kita tulis di socmed gampang banget dicari di Google dan sayangnya orang yang nggak ngerti apa pun tentang kita jadi menilai kita berdasarkan postingan yang nggak sopan tersebut. Iya kalau yang lihat nggak ada maksud apa-apa, coba kalau yang lihat akun socmed lo adalah orang dari perusahaan yang kita sedang lamar bukannya itu bakalan jadi bahan pertimbangan yang melemahkan. Iya pelajaran pertama yang bisa kita ambil adalah tentang premature judgment.

Nggak sering kan kita menilai lalu menghujat orang cuma dari postingannya di socmed, padahal serius deh semua itu nggak bisa dijadikan patokan tentang kepribadian seseorang loh. Namun, sayangnya pengguna socmed kayaknya kurang (atau bahkan nggak sama sekali) peduli tentang hal itu.

Seperti kasus yang pernah terjadi; adalah Dinda dengan gondok hatinya terpaksa merelakan tempat duduknya untuk seorang ibu hamil yang dianggapnya merepotkan, kita yang menilai hampir pasti menilai Dinda adalah seorang perempuan tanpa empati. Nah lho memangnya kita tahu bagaimana Dinda sehari-hari atau kepribadian seorang Dinda? Bahkan sampai seorang psikolog “menilai” kalau Dinda adalah seorang perempuan yang nggak punya empati. Penilaian itu muncul atas dasar apa sih? Ya apalagi kalau bukan atas dasar postingan emosional seorang Dinda.

florence3Berlanjut ke Florence Sihombing dengan hati berapi-api dia posting tentang kekesalan yang dialaminya. Tentang bagaimana ia merasa didiskriminasi hanya karena dia cuma naik motor, padahal sebenarnya antre di SPBU adalah suatu hal yang lumrah. Arogansi orang yang sedang emosi. Menurut gw (karena gw sendiri seseorang yang gampang banget kepancing emosi) orang yang lagi emosi cenderung menganggap dirinya paling benar sejagad raya.

Yang benar-benar nggak habis pikir adalah dua orang seleb socmed tersebut (seleb untuk hal yang kurang baik tentunya) kayaknya sih dikhianati sama temannya sendiri. Gimana nggak? Postingan mereka itu di Path yang sebenarnya dikhususkan buat teman-teman dekat saja tapi ternyata postingan itu di-capture dan disebarluaskan berarti kan ada yang menikam dari belakang. Nah dapat pelajaran lagi kan untuk nggak terlalu ngumbar emosi secara eksplisit di socmed, soalnya itu disa dipakai sama oknum-oknum yang nggak suka sama kita untuk ngejatuhin kita. Ini pelajaran kedua yang bisa gw ambil, sepinter-pinternya lo milih teman di socmed, pasti ada juga yang tukang nusuk dari belakang, backstabber, pengkhianat, atau apa pun itu sebutannya

1348422280212_2500798Pelajaran ketiga yang bisa gw ambil adalah mengenai penggunaan bahasa yang baik kapan pun di mana pun. Jujur sih, nggak jarang kok gw juga suka mengumpat di socmed, hey I’m only human! Kadang gw juga mau bertindak seenak udel gw sendiri donk tapi nggak juga harus hilang kendali dan posting sesuatu yang bisa jadi bumerang buat gw sendiri, dan lagi pula masa-masa alay untuk posting kayak gitu sudah lewat beberapa waktu yang lalu kok. It’s so immature. Caelah

So guys, please pick your words carefully. Hidup nggak dilengkapi dengan buku manual yang harus diikuti tapi seenggaknya kita bisa belajar dari semua kejadian di sekitar kita. Baik itu kejadian buruk maupun baik dan gw harap sih kita bisa ambil hikmah dari kasus kayak gini untuk nggak terlalu ngumbar emosi di socmed, it’s not wise dan cuma bakalan nunjukkin seberapa labilnya lo.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 71 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan Si Seksi Galak “Lucy” (2014)

Close