Ulasan Animasi The Secret World of Arrietty (2010)

Siapa sih yang nggak suka film animasi, walau udah dewasa sekalipun gw yakin film-film animasi selalu jadi tontonan wajib waktu liburan panjang, atau at least saat weekend tiba, ya nggak sih? Gw sendiri suka banget nonton film animasi.

Tapi walau udah sering banget nonton film animasi, gw masih sering kecele sama plot yang ditawarkan, oke di sini gw harus kembali menyusun isi kepala dan pemahaman kalau film animasi nggak semuanya lucu. Film animasi tuh gak jarang ada yang sedih banget. Kayak film yang baru saja gw tonton, The Secret World of Arrietty, film ini menceritakan tentang si Arrietty yang merupakan “Little People” atau orang-orang yang kecil. Yap bener, Arrietty ini badannya keciiiiil banget, seukuran sama belalang lah.

Arriety hidup dengan papanya Pod dan mamanya Homily dan mereka menyebut diri mereka sebagai “The Borrowers” atau manusia kecil yang bertahan hidup dengan mengambil barang-barang milik manusia yang kalau hilang sedikit nggak akan bikin ngeh para “Beans” atau manusia normal. Hidupnya bisa dikatakan normal sampai tiba saatnya Arrietty belajar untuk menjadi Borrowers seperti papanya yang akhirnya membawanya untuk berurusan dengan Beans bernama Shawn.arrietty-poster

Film ini menurut gw sedikit nggantung, bukan karena endingnya yang bikin gw bete setengah mati karena ga sesuai ekspektasi gw (gw salah ekspektasi karena pas liat cover-nya gw pikir film ini bakalan lucu), tapi karena memang film ini agak sedikit kurang greget, beda banget sama filmnya Ghibli studio lainnya.

Tapi tetap film ini menawarkan beberapa pelajaran yang lumayan mendidik, apalagi film ini dibuat dari buku anak-anak karangan penulis Inggris, Mary Norton, dengan judul “The Borrowers”. Belum, gw belum baca buku aslinya tapi janji deh pasti bakalan gw cari dan gw baca, oke.

Beberapa pelajaran yang gw tangkep dari kisah Arietty dan Shawn bikin gw berpikir tentang kehidupan manusia pada umumnya.

Prasangka

Papa Pod selalu berprasangka kalau manusia itu jahat, yah nggak salah juga sih mengingat papa Pod berpikir kalau merekalah Borrowers terakhir yang hidup di dunia ini. Prasangka papa Pod juga pasti dimaksudkan untuk menjaga keluarganya, terutama Arrietty yang masih suka berpetualang dan nggak tahu jahatnya dunia luar.

Prasangka papa Pod mengingatkan gw sama orangtua gw sendiri atau kalau mau kita buat lebih umum, prasangka para orangtua. Orangtua memang cenderung selalu berprasangka pada perubahan, mungkin karena belajar dari pengalaman hidup yang bikin mereka selalu berhati-hati. Namun terkadang, prejudice will lead you nowhere, gw nggak bilang kalau tindakan orangtua yang berhati-hati itu salah, tapi menurut gw akan lebih baik kalau kita pelajari situasinya dan pahami keadaannya, keputusan yang diambil dalam prasangka cenderung menjadi keputusan yang prematur. Ah, keren ya bahasa gw. 😀

Jangan cepat menyerah

Tokoh Shawn dalam film ini diceritakan sebagai anak yang memiliki kelainan jantung yang akan menjalani operasi jantung sehingga membutuhkan suasana baru di lingkungan pedesaan yang asri sementara orangtuanya juga harus mengurus pekerjaan dan perceraian mereka.

Karena semua keadaan yang gw sebutin tadi, Shawn cenderung jadi anak yang nggak semangat kalau nggak mau disebut pemurung. Shawn cenderung menyerah dengan takdirnya dan jadi enggan dengan dunianya, bahkan dia tidak banyak berharap dengan hasil operasi jantungnya. Tapi semua itu berubah saat Negara Api menyerang, eh bukan deng, tapi sejak saat Shawn ngeliat Arriety di pekarangan saat sedang sembunyi dari kejaran kucingnya, Niya.

Shawn ingat cerita-cerita ibunya tentang manusia kecil dan entah sejak kapan dia jadi ngerasa harus ngelindungin Arrietty. So sweet.

Stand for yourself

As I told you before, tentang sikap Shawn yang cenderung nrimo, beda banget sama Arrietty yang selalu penuh semangat dan ceria, padahal dia juga punya masalahnya sendiri sebagai orang kecil yang sering kegusur kalau sampai dilihat Beans.

Suatu ketika saat papa Pod memutuskan sudah memutuskan untuk mencari rumah baru karena Arrietty diliat Shawn, Arrietty memutuskan untuk berpamitan sama Shawn. Di sinilah Shawn mengutarakan kata-kata pesimistis tentang kematian yang intinya mau berjuang kayak apa pun juga, ya lo pasti mati deh.

Namun, dengan sedikit emosi Arrietty ngasih tahu Shawn tentang pandangan hidupnya, bahwa setiap manusia harus berjuang untuk apa yang diinginkannya, nggak peduli seberapa berat itu, lo sebagai makhluk hidup harus tetap berjuang untuk ngedapetinnya.

Buat gw pribadi, tiga poin di atas emang kita banget, prasangka, terkadang cepat nyerah, dan juga terkadang yang lebih parah kita terkesan enggan berjuang untuk diri kita sendiri. Dengan prasangka kita cenderung memberikan penilaian yang prematur dan akhirnya lebih sering menyakiti orang-orang yang kita sayang.

Cepat menyerah bikin kita jadi takut nyoba karena takut gagal, padahal menurut gw gagal itu salah satu cara kita buat belajar menghargai keberhasilan dan tahu seberapa besar sih kemampuan kita. Sementara berjuang untuk diri sendiri ngajarin kita untuk bisa mempertahankan apa yang menurut kita berharga, dengan cara yang benar pastinya.

So after all, biar pun filmnya nggak bikin gw ketawa sama sekali seenggaknya ada sedikit hal yang bisa gw ambil sebagai pelajaran. Aih, bijaksana banget.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 716 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Jalanan Jakarta dan “Remeh-Temeh”-nya

Close