Jalan Lain ke Komodo

Berniat main ke Pulau Komodo? Cara paling umum yang bisa lo lakuin sih dengan mengikuti paket perjalanan yang ditawarkan biro wisata. Lazimnya, perjalanan diawali dari Labuan Bajo. Ada banyak biro wisata berbasis di Labuan Bajo yang nawarin peket tur mulai dari yang paling murah sampai yang termewah. Biasanya, tur ke Pulau Komodo sepaket sama perjalanan ke pantai-pantai indah di Lombok memakai kapal liveaboard.

Tapi buat lo yang pengen nyoba cara baru, ada jalan lain mencapai Pulau Komodo yaitu langsung dari Pelabuhan Sape, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebenarnya, perjalanannya tergolong “ngelawan” aturan karena Pulau Komodo kan ada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengelola Taman Nasional Komodo menilai perjalanan dengan cara kedua dapat mengurangi Pendapatan Asli Daerah Provinsi NTT dari sektor pariwisata karena sifatnya lintas provinsi. Tapi, buat lo yang mau nyari pengalaman dan tantangan berbeda, perjalanan langsung dari Pelabuhan Sape bisa jadi pilihan yang layak buat lo dan geng lo pertimbangin.

Biayanya emang lebih mahal dibanding berangkat dari Labuan Bajo. Tapi kalau lewat jalur ini, perjalanan jadi lebih “membumi”, kita juga bisa ngeliat kehidupan masyarakat lokal secara lebih intim dan alami, alih-alih duduk manis mengikuti semua bimbingan pemandu wisata.

Cara kedua itulah yang gw dan temen-temen pernah tempuh meski tubuh sudah sedemikian ringkih dikurung lebatnya rimba gunung Tambora sehari sebelumnya. Durasi ideal untuk dapat menjelajahi berbagai destinasi selain Pulau Komodo seperti Pantai Pink, Pulau Rinca, dan Gili Motang sih 4 hari 3 malam. Sayangnya saat itu kami, yang kebetulan berprofesi sebagai kuli tinta di sebuah surat kabar ternama di Bandung, Bambang Arifianto, Sisika Nirmala, Yusuf Wijanarko, serta seorang rekan dari Mahacita UPI, Nabil M Hikmat tidak punya waktu banyak.

Senja menyambut kami waktu sampai di pelabuhan paling timur pulau Sumbawa itu. Dari Desa Pancasila di kaki Tambora, perlu waktu 7 jam lebih untuk sampai ke Pelabuhan Sape. Pelabuhan Sape sebenernya bisa ditempuh cuman dalam waktu 2 jam dari bandara Sultan Salahuddin, Bima.

2Dengan menggunakan kapal nelayan, pagi buta adalah waktu yang paling tepat memulai perjalanan. Banyak nelayan yang siap mengantar dengan biaya sewa kapal bervariasi mulai dari Rp3.000.000 juta- Rp4.000.000. Ya perlu lo siapin adalah skil menawar yang mumpuni dan sebisa mungkin hindari calo pelabuhan.

Selama delapan jam di atas kapal, deretan pulau kecil menyambut silih berganti samapai akhirnya tiba di dermaga Pulau Komodo. Satu hal yang wajib lo inget; bawa perbekalan logistik sebanyak yang diperlukan dan perhitungkan berapa jam atau berapa hari kita akan berada di PulauKomodo. Nggak ada penjual makanan di sana, kecuali kalo lo berencana tinggal di rumah penduduk  selama beberapa hari.

Tarif masuk Taman Nasional Komodo dipatok Rp 22.500 per kepala ditambah Rp 80.000 untuk membayar ranger yang memandu sekaligus menjadi pawang komodo. Ada empat pilihan track menjelajahi Taman Nasional Komodo yaitu short track, medium track, long track, dan adventure track.

Rute terpendek bisa ditempuh hanya dalam 30 menit sedangakan untuk rute paling panjang butuh sekitar empat jam. Semakin panjang jalur yang ditempuh, semakin besar juga peluang melihat langsung kehidupan sang naga legendaris di habitat aslinya.

Jalur track-nya naik-turun. Titik tertinggi sepanjang track dinamakan Bukit Sulphurea. Dari atas bukit, terlihat hampir keseluruhan bagian pulau mulai dari garis pantai hingga pergunungannya yang misterius.

Ranger-ranger di sini bercerita kalau banyak wisatawan asing yang menumpahkan kemarahan mereka karena kecewa dengan apa yang mereka lihat langsung. Eksepektasi mereka terlalu tinggi karena menjadikan tayangan soal komodo di berbagai program TV sebagai standarnya. Ya lo bisa lihat sendiri di film-film dokumenter atau channel sains, penggambarannya bisa buat kita berdecak kagum.

“Biasanya turis dari Prancis atau Rusia yang sering marah. Mereka kurang mengerti kalau sisi eksotis dan keganasan komodo ketika mencabik mangsa yang sering terlihat di TV hanya tejadi pada musim feeding. Tidak  terjadi setiap hari,” kata salah seorang ranger.

Selain komodo, di Taman Nasional tersebut hidup pula berbagai satwa liar seperti rusa, sapi, ular, dan babi hutan. Yah, kalau pun gagal menemukan komodo sepanjang perjalanan, tak usah risau. Pengelola selalu memancing komodo dengan aroma darah untuk berkumpul di titik akhir track.

Sedikitnya ada 5 komodo yang berkeliaran di ujung track. Pengunjung bisa berfoto dengan kadal terbesar di dunia itu dari jarak dekat tetapi harus tetap berhati-hati, salah-salah kita sendiri yang bisa jadi santapannya. Sensasi itulah yang hanya bisa didapat di sana.

Jangan kira kalau si komo bobo-bobo cantik dia ngga bisa nerkam dalam sekejap mata. Diamnya adalah gerakannya, sorot matanya adalah gertakannya, kira-kira begitulah penggambaran dramatis kadal bertubuh tambun ini. Caranya berjalan, air liur, lidah, dan ukuran tubuhnya adalah caranya menunjukkan keperkasaannya.

———————

Gili Banta

Angker Tetapi Menenangkan

3Tantangan rute Pelabuhan Sape-Pulau Komodo paling terasa dalam perjalanan pulang. Laut mulai menghitam saat kapal yang kami naiki meninggalkan Pulau Komodo dan memasuki perairan NTB. Seperti sudah diprediksi sebelumnya, cuaca buruk menghadang menjelang senja sampai akhirnya kami terpaksa harus bermalam di atas perahu.

Kita pun haru muter nyari jalur yang lebih tenang. Padahal, jarak ke Pelabuhan Sape hanya tinggal sekitar 2-3 jam perjalanan.

Ombak jinak yang dicari akhirnya didapat di tepi pantai Gili Banta. Waktu jangkar dilempar, kami sempat bertanya kenapa nahkoda nggak menyandarin perahunya di pantai biar kita bisa tidur lebih nyaman di atas pasir. Sayangnya awak kapal cuman ngejawab sekenanya.

Nah, besok paginya lah kita baru ngeh kenapa si empunya kapal ngga mau merapat ke pantai. Rupanya mereka enggan lebih dekat lagi ke pulau itu. Menurut sang kapten kapal Gili Banta merupakan pulau yang dikenal paling angker se-NTB.

Julukan yang bukan tanpa alasan. Menurut si nakhoda, di pulau yang nggak berpenghuni itu sering ditemukan mayat yang terdampar kebawa arus. Mayat-mayat itu biasanya jasad penyelam lokal maupun dari Sulawesi, atau nggak korban kapal kapal kecil yang karam dihantam gelombang. Beberapa jasad kadang ditemukan sudah nggak utuh lagi.

Sulitnya evakuasi ditambahk kondisinya yang sudah membusuk, kebanyakan mayat itu dikubur seadanya di pesisir pantai atau di semak-semak baik oleh rekan rekannya yang mencari maupun tim penyelamat. Yah, wajar lah kalau nelayan yang nebar jala di sekitar Gili Banta kadang ngeliat bagian tubuh tertentu menyembul dari pasir.

4Kejadian kayak gitu paling sering terjadi pas pertengahan 80-an. Untungnya, udah ngga pernah ada lagi mayat yang ditemui di pulau yang letaknya di timur pulau Sumbawa itu sejak belasan tahun terakhir.

Cerita yang mengejutkan itu ngingetin kami waktu menghabiskan malam di perairan pantai tersebut. Tapi kalau diinget-inget lagi sih… nggaada tuh kejadian yang nyeremin sampai langit kembali terang. Kami juga sempat menginjakan kaki di Gili Banta untuk sekadar menikmati pemandangan matahari terbit dan berfoto.

Alih-alih nuansa seram, justru kedamaian lah yang ditawarin di hamparan ilalang yang menutupi hampir seluruh permukaan pulau. Ada sedikitnya 6 pantai berpasir putih yang masih bersih dari sampah. Beberapa di antaranya dipisahkan tebing yang menjulang. Air lautnya pun jernih dan terlindung oleh semenanjung-semenanjung karang.

Sejatinya Gili Banta termasuk Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Bima. Lo bisa lihat itu di SK Bupati Bima Nomor 8 tahun 2005. Ngga ada transportasi khusus ke pulau seluas 43.750 ha itu. Hampir ngga ada juga paket wisata yang menawarin Gili Banta sebagai salah satu destinasinya, jadi lo harus menyewa kapal milik warga setempat untuk sampai ke sana.

Kalau lo punya waktu lebih, ngga ada salahnya singgah untuk menikmati kemurnian Gili Banta, jangan khawatir semakin lama stigma horor pulau ini juga semakin memudar. Kegiatan yang paling cocok dilakukan di sana adalah, memacing, snorkling, maupun scuba diving. Jangan lupa juga membawa perbekalan makanan yang cukup karena cuaca perairan Flores yang sukar ditebak.

Stay updated! Follow us on:

Yusuf Wijanarko
Find me
Yusuf Wijanarko
Find me

Latest posts by Yusuf Wijanarko (see all)

(Visited 58 times, 1 visits today)

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Kronik Keluarga Khong Guan

Close