Tentang Rindu

Bicara tentang rindu tentunya terdengar abstrak. Dan denger kata abstrak aja udah bikin urat-urat otak mengerut, apalagi mereka yang udah pernah dibikin trauma sama skripsi dan sejenisnya. Oke itu abstraknya beda. Karena itu jangan dibikin rumit. Rindu juga bisa sederhana.

KBBI memang punya definisi tentang rindu. Tapi rindu tentang perasaan, dan perasaan tiap orang dibedakan oleh pengalaman. Maka wajar kalo kita punya banyak hal yang dirindukan tapi takarannya beda-beda. Ada rindu yang banget, ada juga rindu yang biasa aja.

Kalian mungkin pernah nemu temen yang kangen-kangenan sama pacarnya lewat telepon, padahal tahu dia baru aja beres kencan gak lebih dari sejam sebelumnya. Dan mungkin ada juga temen kerja/kampus yang menggebu-gebu cerita tentang reunian dia sama temen-temen SD-nya, sementara kalian sendiri masih kesusahan nginget setidaknya lima nama temen SD kalian sendiri. Atau gak menutup kemungkinan kalian sekarang punya temen yang lebih parah dari Bang Toyib, hidup anteng di perantauan seolah-olah lupa kampung halaman.

Luapan rindu pada akhirnya menjadi semacam parameter seberapa besar hasrat yang dimiliki seseorang untuk bertemu dengan hal yang dirindukannya. Dengan kata lain, ada latar belakang yang membedakan mengapa setiap orang punya takaran rindu yang berbeda.

Kita tidak sedang menyamakan rindu dengan gula yang bisa ditakar untuk megetahui seberapa manis teh hangat bikinan sendiri. Tentu saja karena rindu gak bakalan bikin diabetes. Tapi syahdan, suatu malam yang benderang di Yogyakarta 2011, seorang teman bernama Mukti berhasil menggantungkan pertanyaan besar tentang rindu. Mungkin terdengar maho. Tapi obrolan lawas hingga larut bersamanya membuat gw terusik beberapa malam belakangan.

Mukti bukan temen yang udah lama gw kenal. Pertemuan di salah satu tempat lesehan di Kaliurang itu merupakan perjumpaan kali ketiga, dan hingga tiga tahun berlalu belum ada pertemuan keempat.

Kami dipertemukan lewat solidaritas komunitas fotografi kampus. Dalam sebuah kesempatan, Mukti yang anak UGM langsung klop sama gw, anak kampus Jatinangor yang sama-sama welcome ngejalin pertemanan sesama anak komunitas.

Obrolan di Kaliurang kala itu cukup membekas. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sudah sangat injury time, kami membicarakan tentang mimpi besar sekiranya sudah lepas dari almamater masing-masing. Mukti saat itu mengutarakan angan-angannya untuk memiliki kafe di Amsterdam, sementara gw berceracau tentang keinginan untuk pindah kewarganegaraan ke Australia.

Pertemanan memang selalu aneh. Kadang kita malah merasa lebih akrab dengan orang yang jarang menghabiskan waktu bersama. Dan obrolan malam itu seperti telah membekukan waktu, tapi juga jadi terasa singkat. Sampai akhirnya fajar merekah, kami tahu telah tiba saatnya berpamitan. Gw mesti ngejar kereta ke Lempuyangan buat balik ke Kota Kembang.

Di gerbang loket kami pun basa-basi perpisahan. Tapi tanpa bicara pun kami tahu bahwa perjumpaan selanjutnya akan lama. Sepertinya kami sudah saling merasa bahwa selepasnya kami dari dunia kampus, kehidupan bakal berbeda. Gw pun bertanya, “kapan kira-kira kita ketemuan lagi?”

“Ente lebih menghargai rindu, ato pengen rindu jadi lebih berharga?” jawab Mukti dengan balas bertanya. Tangan kami kadung terlepas dari kepalan. Gw cuma bisa lempar senyum dan balik badan.

Obrolan filosofis semasa ngampus memang sudah jadi pemakluman, bagi kami. Tapi pertanyaan yang dilempar Mukti kala itu lupa gw pecahkan, sampai akhirnya pertanyaan itu tiba-tiba kembali muncul dari benak pada suatu malam jelang takbiran, meminta untuk segera dituntaskan.

Mungkin Tuhan telah menciptakan gw sebagai orang yang ngangenin. Jangan salahkan Tuhan. Tapi di sisi lain gw orangnya jarang bisa kangen. Dan sekalinya ketemu temen lama, misalnya, gw gak selalu merasa euforia.

Akhirnya gw asumsikan bahwa gw adalah orang yang gak bisa menghargai rindu. Tapi jangan dulu didefinisiin sadis. Mungkin gw begitu karena ngerasa gak punya kata “perpisahan” dalam kamus pribadi. Orang-orang boleh datang dan pergi, tapi gw mikir mereka masih ada di lingkungan sejarah perjalanan gw sendiri. Sekali gw jabat tangan dan tahu nama orang, dalam hati gw pasti ngomong, “Salam kenal, mari kita bareng-bareng bikin cerita”.

Boong deng. Gw cuma pengen bilang bahwa rindu dengan sendirinya terkikis selama gw nyimpen orang-orang yang gw kenal di sini (nunjuk dada). Karena itulah gw gak separno temen ente yang telpon kangen-kangenan di setiap kesempatan. Mungkin dia orang yang selalu takut kehilangan. Atau bisa jadi dia sangat menghargai rindu.

Lantas apakah gw dan Mukti sama-sama gak menghargai rindu untuk saling bertemu? Bisa jadi. Tapi itu belum menjawab pertanyaan retorik temen gw. Sampai akhirnya lebaran kedua tiba, euforia yang kadang-kadangan itu muncul ketika Mukti tiba-tiba saja bertandang ke rumah.

Gw kontan kaget. Tapi saat itu Mukti tidak punya waktu lama. Ia sekadar mampir setelah memisahkan diri dari rombongan keluarganya yang bersilahturahmi di Bandung. Kami pun bernostalgia di bawah rembulan Dipatiukur selama hampir tiga gelas kopi.

Mungkin inilah jawaban kenapa tempo hari sebelumnya gw tiba-tiba inget sama Mukti dengan pertanyaannya yang menggantung. Tuhan mungkin menciptakan gw dengan kelebihan visi dan naluri yang tajam. Jangan salahkan Tuhan. Tapi gak menutup kemungkinan juga itu adalah perasaan merindu yang selama ini enggak gw sadari.

Gw ngerasa gak perlu ngebahas itu semua ke Mukti. Dan gw juga gak perlu nanya apa maksud dari pertanyaan yang sempat dia gantungin. Pertemuan saat itu memberitahu gw bahwa kami telah membuat rindu semakin berharga.

Selepas Mukti berpamitan, gw kembali merasa masih ada yang menggantung, meski kali ini tidak lewat kata-kata. Senyampang gw sadar selama ini telah takabur meremehkan rindu, seketika itu juga jadi ada banyak hal yang dirindukan; teman, keluarga, rumah, kampus, kota, kampung halaman, dan segalanya.

Selama ini gw terlalu cuek untuk menyadari bahwa gw dikelilingi orang-orang berharga yang telah membantu proses gw untuk menjadi lebih dewasa. Gw menyadari ini semua setelah mudik pulang kampung dan bertemu kerabat juga handai tolan. Waktu terasa sangat cepat berlalu ketika menyadari banyak keponakan sekarang lebih buas ngabisin duit THR gw tanpa ampun. Begitu juga belasan pertanyaan dari emak-emak yang semakin menyudutkan bahwa gw sekarang udah tuwir, “Kapan kawin?”

Secepat waktu berlalu, sebanyak itu pula gw melewati banyak hal. Orang-orang boleh datang dan berlalu, tapi sekarang gw mikir bahwa komunikasi dan silaturahmi mesti tetep jalan, gak sekadar disimpen di sini (nunjuk dada). Karena kelamaan nyimpen di sini (nunjuk dada) ujung-ujungnya gw gak tahu kabar dan keberadaan orang-orang yang dulu pernah singgah di perjalanan hidup gw. Mungkin lebaran ini momen yang tepat buat gw ngucapin salam silaturahmi dan permintaan maaf lahir dan batin. Semoga kita kembali ke fitrahnya. Kapan kira-kira gw bakal napak tilas ketemu orang-orang dan lingkungan yang dirindukan? Bergantung. Ente lebih menghargai rindu, ato pengen rindu jadi lebih berharga?

Stay updated! Follow us on:

Gilang Fauzi
Find me
Gilang Fauzi
Find me

Latest posts by Gilang Fauzi (see all)

(Visited 82 times, 1 visits today)

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Pertanyaan yang Sering Muncul Ketika Mudik

Close