Islam yang Ambekan

Tuh kan, baru baca judulnya doang udah sensi. Tapi ya gitu, emang susah kalo ngomongin agama. Disinggung dikit, ngambek. Padahal salat cuma seminggu sekali, pas Jumatan doang.

Isu agama, khususnya Islam, belakangan gencar dijadiin alat politik buat nyerang satu sama lain yang punya beda kepentingan. Gw sih bilangnya itu alat politik, karena mungkin momennya barengan sama detik-detik penentuan presiden. Semua orang tahu, dua kandidat sekarang keukeuh bakal jadi pemenang. Yang satu nyengir ngeselin, yang satu lagi sampe sujud syukur. Ancur.

Kalo ditarik jauh ke belakang, ada banyak isu terkait agama yang dampaknya bikin gerah masyarakat. Tapi kali ini gw cuma pengen bahas yang lagi anget sekarang ini aja.

Kalian tentunya masih inget sama karikatur ini.

JAKPOST

Karikatur yang dimuat di The Jakarta Post edisi 3 Juli 2014 ini menuai kecaman dari masyarakat. Alasannya, karikatur itu dipandang ngehina Islam karena menampilkan bendera berlafalkan syahadat dengan tengkorak di bawahnya. Sementara itu, lima orang menanti dieksekusi mati oleh kawan sang pengibar bendera hitam.

Sialnya, satire cerdas yang dimuat The Jakarta Post ini gak ngena di mata warga Indonesia, yang mayoritas Muslim, dan ambekan. Kalau saja masyarakat kita mau lebih meluangkan waktu untuk baca berita internasional, khususnya Timur Tengah, mereka mungkin pernah mendengar istilah ISIS dan mengapa bendera mereka sampai dijadikan banyolan media sekaliber The Jakarta Post.

ISIS, Negara Islam Irak dan Suriah, juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Levant (Islamic State of Iraq and the Levant/ISIL), merupakan kelompok garis keras yang berniat mendirikan negara Islam dengan cara paling ekstrem yang bisa kamu bayangin. Mereka melakukan tindak kekerasan, pembunuhan, dan intimidasi dengan mengatasnamakan Islam. Kabar terakhir, mereka sudah mulai merangsek ke wilayah timur Suriah. Kalian hanya perlu browsing di Youtube untuk melihat kekacauan yang mereka timbulkan.

Lantas apa yang mesti dibela dari ISIS? Karena mereka berjuang untuk menegakkan agama? Apa bedanya dengan Israel yang dihujat habis-habisan karena melakukan pembantaian demi membela kepentingan Yahudi. Jelas ini bukan lagi soal agama, bro, tapi kemanusiaan. Wajar jika kemudian anggota Dewan Pers, Yosep “Stanley” Adhi Prasetyo kepada Tempo mengatakan, “Kalau (karikatur itu) dimuat di Mesir, orang akan mengerti maksudnya. Tapi orang di sini tidak paham.”

Kenyataannya, masyarakat kita sangat sulit untuk mencerna segala sesuatu yang masih tersirat. Semuanya harus terang benderang. Orang-orang tampaknya sangat malas untuk dipaksa berpikir lebih dalam. Seperti derasnya tanggapan miring terhadap pernyataan yang dikeluarkan Quraish Shihab belum lama ini.

Bapak kandung presenter kondang Najwa Shihab itu menuai kecaman umat Muslim ketika menyatakan, “Tidak benar. Saya ulangi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Surga itu hak prerogratif Allah… ”

Penjelasan mantan menteri agama itu kontan membuat murka mereka yang, lagi-lagi, ambekan. Dengan beragam judul yang provokatif, dan juga disebar oleh situs-situs Islam penebar kebencian (ada lah banyak), pernyataan sang cendikiawan Muslim pun jadi bulan-bulanan.

Gw sebagai penganut Islam garis lunak pun terpaksa ikutan kepo. Beruntung, gw bukan golongan yang ambekan. Dua hal yang jadi pelajaran sepanjang drama kampanye hitam pilpres buat gw kemaren cukup sederhana: cari tahu siapa yang ngomong dan siapa yang nyebarin.

Let’s speak the truth. Quraish Shihab itu bukan ustad kemaren sore yang harus teriak-teriak, “Jama’aaaaaaahhh”. Dan sebagai seorang cendikia, dia gak bisa seluwes Mamah Dedeh yang paling bisa ngehibur ibu-ibu pengajian. Quraish Shihab itu seorang ahli tafsir. Iya, ahli tafsir. Saking formalnya kadang gw suka pindah channel TV kalo pas giliran dia ngasih kultum buat nunggu beduk. Ilmu dia ketinggian. Wajar kalo anaknya sekarang pinter dan cantik jelita. Sorry. Next.

Pernyataan Quraish itu tentu bukan asal cuap. Dia tahu apa yang diomongin. Dan dia merasa tidak perlu untuk mengklarifikasi ulang pernyataannya tersebut. “Silakan menyimak ulang penjelasan saya di episode tersebut,” kata Quraish melalui akun Facebook-nya. Sungguh seorang cendekiawan yang tidak ambekan.

Selain mengutip hadits yang menyinggung bahwa Muhammad sendiri akan masuk surga “hingga Allah meliputi dengan rahmat-Nya”, Quraish dalam ceramahnya kala itu sebetulnya ingin menegaskan bahwa amal bukanlah satu-satunya yang menjamin seseorang masuk surga, karena pada akhirnya Allah yang akan memberikan penilaian di akhirat.

Tapi apa yang terjadi, masyarakat kadung menelan mentah-mentah konteks yang hanya ada di permukaan. Pernyataan sisanya tidak mereka gubris. Itu salah satu tipikal orang ambekan.

Dalam waktu singkat, Quraish Shihab pun mendadak ramai dicap Syiah. Figur pemimpin yang diidolakan banyak orang memang paling sensitif untuk disinggung, apalagi menyangkut nabi. Maka tidak heran jika kemudian banyak “nabi-nabi” baru bermunculan, dan secepat itu pula mereka “dimusnahkan”. Hal ini menegaskan bahwa Islam bukan agama yang bisa ditawar-tawar – meski Muhammad pernah meramal bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan. Masih berkelit Muslim rentan ambekan?

Tengok saja kasus Deddy Mizwar Sang Pencari Tuhan. Bekas Naga Bonar yang dulunya lantang menyuarakan patriotisme kebangsaan itu kini menjadi Pak Haji yang lupa amanah. Kita bahkan tidak tahu prestasi apa saja yang sudah dikerjakannya selama menjabat wakil gubernur Jawa Barat. Dan ketika Deddy Sang Pencari Tuhan itu dikritik soal andilnya dalam tayangan musiman Ramadan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pasang badan dan berdalih kepada Merdeka.com, “Saya kira begini deh, urusan begitu urusan moral kan, urusan etika kan, tolong jangan dipolitisasi.”

Moral dan etika macam apa sebenarnya yang dibicarakan Aher dengan nada ambekan itu? Apakah seorang pemimpin boleh mengesampingkan amanahnya yang utama hanya demi sinetron religi musiman? Pemimpin seharusnya tidak berkelit dari kritik. Apalagi membawa-bawa istilah moral, etika dan religi sebagai tameng. Amanah ya amanah. Bukan politisasi.

Kalaupun kita berbicara politik, toh agama pun sudah dipolitisasi. Nahasnya, semua pemimpin yang ada di partai pengusung Islam tidak ada yang beres. Jangankan impor daging sapi, ibadah haji dan pembuatan Alquran pun dikorupsi juga. Sialnya lagi, mereka kini membentuk formasi koalisi permanen penggagas UUMD3 yang isinya partai-partai dengan pemimpin bermasalah, mulai dari lumpur Lapindo, Century, hingga mafia migas. Penggagasnya? Bekas pelanggar HAM yang super-duper ambekan.

Ini gila. Agama akan selamanya mengalami krisis jika pemimpinnya enggak ada yang bisa dipercaya. Gw bingung. Mungkin ini saatnya pindah agama, eh sori, pindah negara kamsudnya.

Stay updated! Follow us on:

Gilang Fauzi
Find me
Gilang Fauzi
Find me

Latest posts by Gilang Fauzi (see all)

(Visited 74 times, 1 visits today)

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ketika Ekstrak Manggis Jadi ‘Penyejuk’ Dunia Maya

Close